- Shin Tae-yong dipecat Ulsan HD hanya dua bulan setelah ditunjuk, memicu drama dan saling sindir.
- Ia menyebut dirinya “korban” dalam wawancara, lalu disindir balik lewat selebrasi pemain senior.
- PSSI menegaskan tak akan merekrut kembali Shin Tae-yong untuk Timnas Indonesia.
Suara.com - Mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, kembali jadi sorotan. Bukan karena prestasi, melainkan kisruh yang terjadi di klub barunya, Ulsan HD.
Ia baru dua bulan menjabat sebagai pelatih sebelum akhirnya dipecat, lalu secara terbuka menyebut dirinya sebagai korban dari situasi yang tidak adil.
Ulsan HD sejatinya merupakan klub elite di Korea Selatan dengan segudang prestasi: lima gelar K League 1, satu Korea Cup, dan dua trofi Liga Champions Asia (AFC Champions League).
Musim lalu, mereka bahkan mencetak sejarah dengan meraih gelar K League 1 tiga kali beruntun—pertama kalinya dalam sejarah klub.
Dengan skuad bertabur bintang seperti Kim Young-gwon, Lee Chung-yong, dan Cho Hyun-woo, serta tambahan pemain baru seperti Lee Hee-kyun, Kang Sang-woo, Yoon Jong-gyu, dan dua legiun asing, Eric dan Lacaba, Ulsan diyakini siap melanjutkan kejayaan.
Namun, kenyataan di lapangan jauh dari harapan.
Musim 2025 menjadi mimpi buruk. Alih-alih bersaing di papan atas, Ulsan justru terpuruk hingga masuk zona degradasi di babak Final B K League 1.
Penampilan mereka di Piala Dunia Antarklub juga tak mampu menutupi jurang besar antara klub Korea dan elite dunia.
Di tengah keterpurukan itu, manajemen memecat Hong Myung-bo dan menunjuk Shin Tae-yong pada awal Agustus 2025.
Menyitat Chosun, penunjukan itu disebut-sebut berlangsung tak lazim, mirip dengan cara Jürgen Klinsmann dulu diangkat menjadi pelatih Timnas Korea.
Sayangnya, alih-alih membawa perubahan, performa Ulsan tak membaik. Dalam delapan laga K League 1, Shin hanya mampu mencatat satu kemenangan, tiga imbang, dan empat kekalahan.
Hasil itu membuatnya didepak setelah 65 hari bekerja—periode yang jadi salah satu yang terpendek dalam sejarah klub.
Situasi makin panas setelah Shin melontarkan komentar kontroversial.
Ia mengaku menjadi “korban”, mengkritik klub dan pemain secara terbuka, lalu menutup pernyataannya dengan permintaan maaf lewat media sosial.
"Saya pelatih yang buruk," kata Shin Tae-yong. "Saya adalah korban," tambahnya.
Drama tak berhenti di situ. Setelah gol ke gawang Gwangju FC pada 18 Oktober, Lee Chung-yong melakukan selebrasi golf—yang disebut-sebut sebagai sindiran terhadap Shin Tae-yong.
Golf dikabarkan menjadi salah satu pemicu keretakan hubungan Shin dengan para pemain.
Meski enggan bicara banyak, Lee hanya berkata, “Setelah kami memastikan bertahan di K League 1, akan ada waktu untuk menjelaskan semuanya.”
Eks pelatih dan legenda Korea, Huh Jung-moo, ikut berkomentar soal kericuhan itu.
“Saya tidak tahu isi hati Shin Tae-yong, tapi saya harus berhati-hati,” ujarnya.
“Seorang pelatih harus bertanggung jawab atas ucapannya. Tidak bisa bicara semaunya lalu pura-pura tak tahu. Saat menonton wawancara Shin, saya merasa seperti melihat seseorang meludahi wajahnya sendiri,” ucapnya tegas.
Huh menambahkan, “Ini bukan kubangan lumpur. Kita harus saling menghormati, menjaga etika dasar.”
Ia juga menyinggung selebrasi Lee Chung-yong, “Saya tidak ingin mengkritiknya, itu kebebasan pemain. Tapi Lee adalah panutan di sepak bola Korea. Ia harus berhati-hati soal waktu dan makna dari tindakannya.”
PSSI Tutup Pintu untuk Shin Tae-yong
Di tengah kisruh Ulsan, isu lain muncul: apakah Shin akan kembali ke Indonesia? Rumor itu langsung ditepis Presiden PSSI, Erick Thohir.
Ia menegaskan, tak ada rencana memanggil Shin kembali setelah pemecatan Patrick Kluivert.
“Kita harus melangkah ke depan. Untuk move on dari Patrick, kita juga harus move on dari Shin Tae-yong,” tegas Erick.
Dengan pernyataan itu, tertutup sudah peluang Shin untuk kembali menangani Skuad Garuda.
PSSI kini dikabarkan tengah menjajaki nama-nama besar asal Belanda seperti Louis van Gaal dan Frank de Boer untuk menangani Timnas Indonesia pada jeda internasional November mendatang.