- Pesepak bola putri Iran, Zahra Azadpour (27), tewas tertembak saat aksi damai di Karaj pada 9 Januari sebelum Piala Asia Wanita 2026.
- Timnas putri Iran tetap berangkat ke Australia meski Iran mengalami ketegangan politik dan serangan militer pihak asing.
- Dalam laga pembuka Piala Asia 2026, pemain Iran memilih diam saat lagu kebangsaan dinyanyikan, kalah 0-3 dari Korea Selatan.
Suara.com - Duka mendalam menyelimuti tim nasional putri Iran jelang Piala Asia Wanita 2026. Kematian tragis pesepak bola liga wanita Iran, Zahra Azadpour, mengguncang skuad sebelum bertolak ke Australia.
Azadpour tewas tertembak saat mengikuti aksi protes damai di Karaj, dekat Teheran, pada 9 Januari.
Ia berusia 27 tahun dan tercatat memperkuat klub Mehregan Pardis serta pernah dipanggil ke pemusatan latihan tim nasional.
Selain berkarier di sepak bola, Azadpour juga dikenal sebagai pendaki profesional. Ia bahkan sukses menaklukkan Gunung Damavand, gunung berapi tertinggi di Asia.
Gelombang protes besar terjadi di Iran pada Januari lalu, dipicu krisis ekonomi dan ketegangan politik.
Protes dari massa dibalas dengan tembakan senjata api oleh aparat keamanan Iran.
Laporan korban jiwa akibat tindakan brutal aparat itu disebut mencapai ribuan orang meski angka pastinya belum dapat dipastikan.
![Timnas Putri Iran di Piala Asia 2026 yang berlangsung di Teheran [Tangkap layar Youtube]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/04/54326-timnas-putri-iran.jpg)
Kiprah Timnas Putri Iran di Piala Asia 2026
Akhir pekan lalu, militer AS-Israel melakukan serangan sepihak ke Iran.
Baca Juga: Bantah Cristiano Ronaldo Tinggalkan Riyadh, Al Nassr Bagikan Kabar Lebih Buruk
Sejumlah fasilitas umum dan pusat militer negara tersebut hancur lebur diserang drone AS dan rudal milik Israel.
Meski kondisi tak menentu di dalam negeri, timnas putri Iran tetap berangkat ke Australia untuk tampil di Piala Asia Putri 2026.
Ini menjadi turnamen besar kedua mereka setelah edisi 2022 di India.
Kapten Zahra Ghanbari dan pelatih Marziyeh Jafari sempat menghadapi pertanyaan sulit dalam konferensi pers perdana.
Keduanya ditanya soal tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, usai serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
“Saya pikir kita tidak seharusnya membicarakan isu-isu ini sekarang. Sebuah tim datang untuk kompetisi yang sangat penting bagi perempuan. Pertanyaan berikutnya, silakan,” ujar Jafari tegas dalam bahasa Farsi.