-
Ricky Kambuaya menerima serangan rasisme di media sosial setelah laga melawan Persib Bandung.
-
Pemain Timnas Indonesia seperti Kevin Diks dan Egy Maulana Vikri mengecam keras aksi tersebut.
-
Rasisme juga menyerang pemain asing Dewa United, Johnathan Carlos Pereira, di waktu yang sama.
Suara.com - Solidaritas penggawa Timnas Indonesia meledak setelah tindakan rasisme mencoreng sportivitas sepak bola Tanah Air pasca-pertandingan liga.
Kecaman ini muncul menyusul serangan verbal tidak terpuji yang diarahkan kepada gelandang Dewa United, Ricky Kambuaya, melalui platform digital.
Fenomena ini membuktikan bahwa perlindungan terhadap identitas pemain di dunia maya masih menjadi masalah krusial bagi industri olahraga.
![China Kena Damprat Legenda usai Dihajar Timnas Indonesia: Cuma Bisa Backpass. [Dok. KitaGaruda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/06/08/11302-timnas-indonesia-ricky-kambuaya.jpg)
Pemain senior berusia 29 tahun ini secara terbuka mengungkap bukti pelecehan yang diterimanya dari oknum suporter tak bertanggung jawab.
Kejadian memilukan ini menambah daftar panjang kasus intimidasi berbasis ras yang mencoreng wajah kompetisi kasta tertinggi Indonesia.
Bek naturalisasi Kevin Diks menjadi sosok pertama yang mengekspresikan ketidakpercayaannya terhadap moralitas pelaku serangan tersebut.
Pemain berdarah Maluku ini menganggap perilaku rasis tidak memiliki ruang sedikit pun dalam ekosistem sepak bola modern.
"Tidak dapat dipercaya," ujar Kevin Diks lewat akun @kevindiks2 sebagai bentuk protes kerasnya.
Rekan setim di Dewa United, Egy Maulana Vikri, juga langsung berdiri di garda terdepan untuk membela sang gelandang.
Langkah serupa dilakukan Rafael Struick yang mengirimkan pesan moral untuk memperkuat mentalitas Kambuaya menghadapi situasi sulit ini.
Seruan Melawan Diskriminasi di Lapangan Hijau
"Katakan tidak pada rasial," kata Egy dalam akun @egymaulanavikri mempertegas sikap anti-diskriminasinya.
Mauro Zijlstra yang merupakan penyerang muda Persija Jakarta turut memberikan respons simbolis atas keprihatinan yang mendalam.
Rafael Struick pun tak ketinggalan memberikan semangat agar rekannya tersebut tetap tegar menghadapi gelombang kebencian itu.
"Tetap kuat saudaraku," tulis Struick via akun @rafaelstruick yang menunjukkan kedekatan emosional antar-pemain tim nasional.
Ternyata, serangan rasis ini tidak hanya menyasar Kambuaya namun juga pemain asing yang merumput di klub yang sama.
Johnathan Carlos Pereira yang merupakan bek asal Brasil turut menjadi korban pelecehan serupa dalam waktu yang berdekatan.
Johnathan memilih merespons dengan bijak meskipun dirinya merasa dirugikan oleh kata-kata kasar yang masuk ke akun pribadinya.
"Semoga Tuhan memberkatimu," ujar Johnathan dalam akun @johnathanjc2 pada Senin (20/4/2026) sebagai balasan bagi pelaku.
Kejadian ini meletus tepat setelah pertandingan pekan ke-28 BRI Super League 2025/2026 yang berlangsung dengan intensitas tinggi.
Momen imbang antara Dewa United dan Persib Bandung di Banten International Stadium justru berakhir dengan noda di media sosial.
Kasus rasisme ini bermula dari unggahan Ricky Kambuaya pada 20 April 2026 yang menunjukkan tangkapan layar hinaan rasial dari netizen.
Hal ini memicu kemarahan publik sepak bola mengingat status Kambuaya sebagai pilar penting di level klub maupun Timnas Indonesia.
Hingga kini, para pemain lintas klub terus menyuarakan kampanye perlindungan atlet dari segala bentuk diskriminasi di media sosial.