-
Jibril Rajoub menolak bersalaman dengan wakil Israel sebagai bentuk protes atas agresi militer.
-
Presiden PFA mendesak FIFA menghapus standar ganda dalam menerapkan sanksi hukum internasional.
-
Infrastruktur olahraga Palestina hancur total akibat serangan yang menewaskan puluhan ribu warga sipil.
Suara.com - Aksi boikot simbolis mewarnai pertemuan petinggi sepak bola dunia saat pemimpin otoritas sepak bola Palestina menunjukkan sikap tegasnya.
Presiden Federasi Sepak Bola Palestina (PFA), Jibril Rajoub, secara terbuka mengabaikan ajakan bersalaman dari utusan Israel di depan pimpinan tertinggi FIFA.
Langkah ini diambil sebagai bentuk perlawanan nyata terhadap penindasan yang menimpa warga sipil dan perusakan fasilitas olahraga di tanah Palestina.
![Para pemain Timnas Palestina. [Yasser Al-Zayyat / AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/06/07/18090-timnas-palestina.jpg)
Rajoub menegaskan bahwa diplomasi di lapangan hijau tidak boleh mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang sedang diinjak-injak oleh agresi militer.
Sikap tersebut menjadi sinyal kuat bagi komunitas internasional bahwa normalisasi hubungan olahraga dengan pihak pelanggar hukum internasional adalah hal mustahil.
"Penolakan untuk berjabat tangan bukanlah tindakan protokoler biasa, tetapi posisi yang mencerminkan keyakinan bahwa normalisasi olahraga dengan mereka yang membenarkan serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur tidak dapat diterima dalam keadaan apa pun," kata Rajoub dalam wawancara dengan Anadolu.
Rajoub merasa bahwa berkomunikasi secara normal dengan pihak yang menutup mata atas kekerasan harian adalah sebuah kemustahilan moral.
![Para pemain Timnas Israel. [Andy Buchanan / AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/12/12/14349-timnas-israel.jpg)
Baginya, tindakan tersebut bukan sekadar urusan personal, melainkan manifestasi dari kegelisahan rakyat Palestina yang kehilangan hak-hak dasarnya.
Dunia internasional mulai merasakan adanya pergeseran atmosfer yang menunjukkan pengucilan terhadap perwakilan federasi Israel di berbagai forum resmi.
Isolasi ini dianggap sebagai awal dari perubahan kesadaran global terhadap isu ketidakadilan yang menimpa atlet dan rakyat Palestina.
"Jelas bahwa ada isolasi yang mengelilingi perwakilan Israel di beberapa kalangan, yang mencerminkan pergeseran bertahap dalam suasana internasional, meskipun belum diterjemahkan menjadi keputusan yang menentukan," tutur Rajoub.
Pihak Palestina kini tengah memperjuangkan tiga poin krusial untuk mendesak FIFA menjatuhkan sanksi tegas kepada Federasi Sepak Bola Israel (IFA).
Salah satu poin utamanya adalah keberadaan klub-klub Israel yang beroperasi secara ilegal di atas tanah pendudukan wilayah Palestina.
Selain itu, dukungan tokoh olahraga Israel terhadap aksi militer dianggap telah mencoreng sportivitas dan misi perdamaian dunia olahraga.
Penghancuran total infrastruktur stadion serta pembatasan ruang gerak atlet Palestina juga menjadi bukti kuat adanya upaya sistematis mematikan olahraga mereka.
"Tidak mungkin ada standar ketat dalam isu internasional lainnya dan standar yang berbeda ketika menyangkut Palestina. Kami tidak meminta perlakuan khusus tetapi agar hukum diterapkan secara sama kepada semua tanpa pengecualian," ucap Rajoub.
Rajoub secara kritis menyoroti inkonsistensi badan sepak bola dunia dalam menerapkan regulasi terhadap berbagai konflik di belahan bumi lain.
Ia menuntut agar hukum FIFA ditegakkan tanpa pandang bulu, terutama terkait rasisme sistemik yang mulai diakui keberadaannya dalam tubuh IFA.
Meskipun pengakuan internasional berjalan lambat, Palestina tetap optimis untuk membangun momentum hukum pada fase-fase berikutnya di FIFA.
Perjuangan ini dipandang bukan sebagai kampanye hubungan masyarakat, melainkan upaya murni berdasarkan dokumen hukum yang sah dan valid.
“Kami tidak melawan dalam pertempuran hubungan masyarakat atau membuat pernyataan politik. Kami bertempur dalam pertempuran berdasarkan berkas hukum yang jelas, dan jika ditangani sesuai hukum dan peraturan tanpa standar ganda, itu cukup untuk menjatuhkan sanksi pada federasi Israel, termasuk membekukan atau mengeluarkannya,” ujar Rajoub.
Saat ini, kondisi fisik fasilitas olahraga di Gaza dan Tepi Barat berada dalam titik terendah akibat kerusakan masif yang terus berulang.
Lebih dari 72.000 warga Palestina telah menjadi korban jiwa, yang di dalamnya termasuk banyak talenta muda dari dunia sepak bola.
Pembatasan akses antar kota di Tepi Barat membuat penyelenggaraan turnamen domestik menjadi hampir tidak mungkin untuk dilakukan secara rutin.
Meskipun harus meminjam dana untuk menjalankan program, PFA tetap berkomitmen menjadikan sepak bola sebagai simbol ketahanan nasional rakyatnya.
Ketegangan ini memuncak dalam Kongres FIFA 2026 di Vancouver, Kanada, saat Jibril Rajoub menolak permintaan Gianni Infantino untuk bersalaman dengan Basim Sheikh Suliman. Isu ini berakar pada agresi militer yang telah menghancurkan 90 persen infrastruktur sipil di Gaza sejak akhir tahun 2023.
PFA kini terus mendesak FIFA untuk menerapkan sanksi berupa pembekuan keanggotaan terhadap Israel atas pelanggaran wilayah geografis dan nilai kemanusiaan.
