- Persaingan gelar juara Super League 2025/2026 antara Persib, Borneo FC, dan Persija berlangsung sangat ketat.
- Persija menghadapi kendala non-teknis berupa ketidakpastian stadion kandang, berbeda dengan Persib dan Borneo FC yang stabil.
- Pengamat sepak bola mendesak PSSI dan operator liga menjamin kepastian stadion demi kompetisi yang lebih profesional.
Suara.com - Persaingan gelar juara Super League 2025/2026 antara Persib Bandung, Borneo FC, dan Persija Jakarta berlangsung ketat. Namun, pengamat sepak bola nasional, Kesit Budi Handoyo, menilai ada persoalan non-teknis yang berpotensi menciptakan ketimpangan.
Menurutnya, Persija harus berjuang tanpa kepastian stadion kandang, sementara rival seperti Persib Bandung dan Borneo FC dapat memaksimalkan dukungan suporter di markas masing-masing.
“Kompetisi musim ini memang ketat dan bisa saja ditentukan hingga pekan terakhir. Persaingannya bagus,” kata Kesit kepada Suara.com.
Namun, ia menilai ada aspek yang tidak seimbang dalam kondisi tersebut.
Keuntungan Bermain di Kandang Sendiri
![Duel Persija Jakarta vs Persib Bandung dalam laga pekan ke-32 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (10/5/2026) sore WIB. [Dok. Persib]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/10/85040-duel-persija-jakarta-vs-persib-bandung.jpg)
Kesit menyebut Persib Bandung tampil sangat kuat saat bermain di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dengan dukungan Bobotoh.
Hal serupa juga dirasakan Borneo FC yang tampil solid di Stadion Segiri.
Persib diketahui mendapat hak pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) melalui skema Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) selama 30 tahun sejak 2024.
Sementara itu, Borneo FC konsisten menggunakan Stadion Segiri, Samarinda sebagai kandangnya untuk musim ini.
Sebaliknya, Persija tidak selalu dapat bermain di Jakarta. Situasi itu, menurutnya, berdampak pada performa tim sekaligus potensi pendapatan dari penjualan tiket.
“Bagaimana klub bisa meraih hasil dan pendapatan maksimal jika tidak bermain di kandangnya sendiri?” ujarnya.
Ia menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian serius PSSI dan operator kompetisi, I.League.
Desakan Kepastian dan Profesionalisme
Kesit juga menyoroti kebijakan yang dinilai masih memberi kompromi kepada klub yang belum memenuhi standar infrastruktur.
Menurutnya, toleransi berlebihan dapat merugikan klub dan menurunkan citra liga.
“Hal seperti ini seharusnya ditegaskan. Namun masih ada kompromi dari operator maupun federasi,” katanya.
"Sehingga klub masih tetap diizinkan walaupun harus bermain secara nomaden atau berpindah-pindah tempat. Padahal ini tidak sehat untuk sebuah klub,” tegas Kesit.
Ia berharap sebelum musim baru dimulai, ada kepastian stadion kandang bagi setiap klub agar kompetisi berjalan lebih adil dan profesional.
“Kemarin publik Persija tentu sempat gembira karena Stadion JIS akan dipakai sebagai home base mereka. Tapi faktanya masih maju-mundur juga. Kadang bisa main, kadang tidak, dengan beragam alasan. Mulai dari kondisi lapangan sampai stadion dipakai untuk kegiatan lain," kata Kesit.
“Kalau di GBK, jujur saja itu memang bukan stadion milik Persija. Statusnya mereka menyewa. Tapi paling tidak kalau memang Persija ingin menetapkan GBK sebagai kandang mereka, ya mau tidak mau harus ada kontrak yang jelas."
“Atau kalau memang memilih JIS, apa sih yang kurang? Misalnya rumputnya masih belum bagus, ya menjelang kompetisi musim berikutnya seharusnya dibenahi. Sehingga nanti Persija benar-benar pasti bermain di JIS dan tidak berpindah-pindah lagi, kecuali dalam kondisi force majeure, itu tentu lain cerita,” pungkasnya.
