- Pelatih Luis de la Fuente menetapkan 26 pemain Timnas Spanyol untuk Piala Dunia 2026 tanpa menyertakan pemain Real Madrid.
- Skuad Spanyol yang didominasi penggawa Barcelona ini ditargetkan menjadi kandidat kuat juara dunia sejak kesuksesan terakhir tahun 2010.
- De la Fuente membangun keharmonisan tim dengan menghilangkan faksi klub demi mengutamakan kepentingan kolektif di atas segalanya.
Suara.com - Pelatih kepala Timnas Spanyol, Luis de la Fuente secara terbuka menegaskan bahwa armada La Furia Roja layak diposisikan sebagai salah satu kandidat kuat peraih trofi juara Piala Dunia 2026.
Menariknya keyakinan tinggi ini tetap diusung sang pelatih meskipun ia mengambil keputusan bersejarah dengan tidak memanggil satu pun pemain dari klub raksasa Real Madrid.
Melalui rilis resmi Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) pada Senin (25/5/2026) malam WIB, De la Fuente resmi mengumumkan 26 nama yang masuk skuad final kejuaraan dunia tersebut.
Komposisi skuad kali ini terlihat sangat didominasi oleh deretan penggawa Barcelona selaku juara bertahan La Liga, seperti Lamine Yamal, Pau Cubarsi, Joan Garcia, Pedri, Gavi, hingga Ferran Torres.
Absennya para bintang Real Madrid dari daftar tersebut memicu perdebatan hangat, namun hal itu tidak melunturkan fokus Spanyol yang sedang memburu gelar juara dunia kedua mereka sejak terakhir kali mengklaimnya di Afrika Selatan pada tahun 2010 silam.
Menjelang perilisan resmi nama-nama pemain tersebut, De la Fuente sempat membeberkan pandangannya mengenai peluang Spanyol dalam sebuah sesi bincang-bincang podcast yang dikutip oleh Diario AS.
Kendati menaruh kepercayaan besar pada kualitas tim asuhannya, pelatih berusia 64 tahun tersebut mengimbau semua pihak untuk tidak jemawa dan tetap membumi.
"Kami harus tetap berhati-hati meski menjadi salah satu favorit. Kami harus tetap berpijak di tanah," kata De la Fuente.
Kendati mengimbau agar tetap mawas diri, mantan pelatih tim nasional kelompok umur Spanyol yang bertugas sejak 2022 tersebut sama sekali tidak memungkiri kualitas mentereng timnya sebagai penantang gelar utama bersama tim-tim elite Eropa lainnya.
"Saya tidak menghindar dari kenyataan, kami memang favorit. Tetapi, tingkat favorit kami sama seperti Inggris atau Prancis," lanjut pelatih yang memimpin Spanyol sejak empat tahun lalu itu.
Di luar aspek taktis dan pemilihan pemain, salah satu perubahan paling mencolok yang ditonjolkan oleh De la Fuente adalah keharmonisan dan persatuan di ruang ganti.
Menurutnya juru sang pemisah atau faksi antarpemain berdasarkan loyalitas klub, terutama rivalitas klasik Barcelona dan Real Madrid kini sudah sepenuhnya sirna dari skuad Spanyol.
"Di sini tidak ada pemain klub, yang ada hanya pemain timnas. Cara berpikirnya berbeda," ujar De la Fuente menegaskan perubahan budaya di dalam internal timnya.
Ia pun memungkasi argumennya dengan menegaskan komitmen tim untuk selalu memprioritaskan kepentingan kolektif di atas segalanya demi performa terbaik di atas lapangan hijau.
"Kami harus melepaskan diri dari semua hal itu dan selalu mencoba membawa yang terbaik," pungkasnya.