-
Arne Slot mengakui keputusan taktisnya musim ini tidak sempurna hingga Liverpool finis kelima.
-
Konflik internal dengan Mohamed Salah mempercepat kepergian sang bintang dari Anfield musim panas ini.
-
Tragedi meninggalnya Diogo Jota dan badai cedera menjadi penyebab utama kegagalan Liverpool.
Kondisi psikologis skuad Liverpool sempat terguncang hebat sebelum kompetisi resmi dimulai. Tragedi kecelakaan mobil yang merenggut nyawa Diogo Jota meninggalkan luka emosional mendalam.
Masalah fisik kemudian memperparah ambisi klub untuk bersaing di papan atas. Rekor transfer klub, Alexander Isak, harus absen dalam 28 pertandingan musim ini.
Krisis ini menjalar ke sektor pertahanan dan penjaga gawang utama mereka. Alisson Becker melewatkan 20 laga, sementara Conor Bradley absen dalam 32 pertandingan.
Pemain kunci seperti Jeremie Frimpong dan Wataru Endo juga menepi cukup lama. Sialnya, bek tengah baru Giovani Leoni hanya bermain 81 menit sebelum cedera parah.
"Jika Anda meminta saya satu kata untuk menggambarkan musim ini, saya akan menggambarkannya dengan kata 'cedera'," tutur Slot merangkum penderitaannya.
Di pihak lawan, Brentford menutup musim dengan kepala tegak di peringkat sembilan. Pelatih Keith Andrews menyebut konsistensi ini sebagai pencapaian luar biasa bagi klubnya.
"Ini menunjukkan bahwa kami adalah klub sepak bola yang baik," kata Keith Andrews bangga.
Ia mengingatkan bahwa bersaing di paruh atas Premier League bukanlah perkara mudah. Banyak tim lain yang gagal mempertahankan konsistensi setelah promosi.
"Finis di paruh atas tidak boleh dianggap remeh, Anda bisa bertanya kepada banyak klub yang tersebar di Championship yang mungkin terlalu tinggi berekspektasi," cetus Andrews.
Keberhasilan Brentford membuktikan bahwa manajemen klub berjalan ke arah yang benar. Dua musim beruntun di papan tengah atas menjadi modal berharga mereka.
"Fakta bahwa kami mampu melakukannya dua tahun berturut-turut adalah sesuatu yang sangat spesial," pungkas Andrews.
Pada laga penutup tersebut, Mohamed Salah sempat memberikan assist untuk gol Curtis Jones. Namun, keunggulan Liverpool langsung sirna enam menit kemudian lewat sundulan Kevin Schade.
Kegagalan mempertahankan keunggulan ini menjadi cerminan rapuhnya performa Liverpool sepanjang musim. Skuad Merseyside kini harus puas bermain di kompetisi kasta kedua Eropa musim depan.