-
Mikel Arteta terpilih sebagai Manajer Terbaik Premier League setelah membawa Arsenal juara Liga Inggris.
-
Gelar juara musim ini menyudahi penantian panjang Arsenal selama 22 tahun setelah mendominasi sejak Oktober.
-
Kebangkitan trofi ini merupakan hasil proses panjang restrukturisasi tim sejak kedatangan Arteta tahun 2019.
Suara.com - Mikel Arteta resmi dinobatkan sebagai Manajer Terbaik Premier League musim ini. Penghargaan bergengsi tersebut diraih setelah sang juru taktik sukses membawa Arsenal menyudahi dahaga juara selama 22 tahun.
Keberhasilan ini menjadi pembuktian magis Arteta yang mampu menyingkirkan para pesaing berat seperti Pep Guardiola dan Michael Carrick. Ia juga mengungguli nominasi lain seperti Andoni Iraola, Keith Andrews, serta Regis Le Bris.
Meriam London memastikan diri sebagai penguasa tertinggi sepak bola Inggris dengan menyisakan satu pertandingan sisa. Mereka tampil sangat dominan dan sukses mengudeta puncak klasemen sejak Oktober lalu.

Keberhasilan mengangkat trofi di Selhurst Park akhir pekan lalu menjadi puncak dari konsistensi luar biasa klub London Utara tersebut. Sebelum mencicipi takhta tertinggi, armada Arteta sempat harus puas menjadi runner-up dalam tiga musim berturut-turut.
Pencapaian ini sekaligus menjadi simbol kebangkitan total Arsenal di panggung tertinggi sepak bola Inggris. Skuad asuhan Arteta tampil solid sepanjang musim demi membayar lunas penantian panjang para pendukungnya.
Merespons momen bersejarah ini, sang arsitek tim asal Spanyol tidak bisa menyembunyikan rasa emosionalnya. "Para penggemar telah menunggu hal ini sekian lama," ujar Arteta penuh haru.

"Kami menghadapi beberapa momen sulit sepanjang perjalanan ini, tetapi semuanya terbayar lunas ketika Anda melihat reaksi seperti itu," tambah pelatih berusia 44 tahun tersebut.
Arteta juga memuji mentalitas anak asuhnya yang tampil tanpa rasa takut sepanjang kompetisi ketat bergulir. Kolektivitas tim menjadi kunci utama mereka dalam meruntuhkan dominasi para rival berat.
Ia menegaskan bahwa seluruh elemen di dalam klub memiliki andil besar atas terciptanya sejarah baru ini. Komitmen yang kuat mengalir dari jajaran manajemen hingga para pemain di lapangan hijau.
"Kami menunjukkan hubungan yang luar biasa, komitmen yang luar biasa, dan juga keberanian yang luar biasa. Segala sesuatu di sekitar kami menjadi bahan bakar bagi ambisi untuk melangkah dan mewujudkannya," tutur Arteta.
Perjalanan arsitek tim asal Spanyol ini di Emirates Stadium sebenarnya tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan. Ia sempat menghadapi badai kritik dan tekanan besar dari berbagai pihak sebelum berhasil mempersembahkan trofi.
"Ada keraguan dan pemahaman bahwa mungkin Anda bukan orang yang tepat. Namun, terima kasih kepada Tuhan karena kami telah berhasil melakukannya. Saya merasakan banyak kegembiraan dan juga kelegaan yang besar," ungkapnya dengan jujur.
Selain kesuksesan Arteta, panggung penghargaan musim ini juga menjadi milik beberapa bintang lapangan hijau lainnya. Bruno Fernandes dari Manchester United sukses menyabet gelar Pemain Terbaik Premier League berkat performa impresifnya.
Sementara itu, talenta muda Manchester City, Nico O'Reilly, dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Premier League. Kehadiran para pemenang baru ini menegaskan ketatnya persaingan kompetisi kasta tertinggi Inggris musim ini.
Keberhasilan Arsenal memutus rekor buruk dua dekade ini merupakan buah dari proses panjang yang penuh kesabaran. Manajemen klub memilih bertahan dengan proyek jangka panjang di bawah kendali mantan asisten Pep Guardiola tersebut.
Ketika pertama kali mendarat pada Desember 2019, Arteta mewarisi skuad Arsenal yang sedang berada di titik terendah dalam sejarah era Premier League. Klub saat itu terpuruk di papan tengah dan kehilangan identitas permainan terbaiknya.
Gelar juara musim ini menjadi muara dari dedikasi dan kerja keras tanpa henti selama enam setengah tahun. Restrukturisasi total yang dilakukan Arteta kini sukses mengembalikan kejayaan abadi ke London Utara.