-
Kongo menuntut FIFA mengembalikan uang tiket Piala Dunia 2026 milik suporter yang dilarang masuk Amerika Serikat.
-
Pembatasan ketat visa dipicu oleh kemunculan kembali wabah Ebola varian langka di wilayah Afrika Tengah.
-
Skuad pemain DR Kongo tidak terdampak karena mayoritas bermain di luar negeri dan sudah dikarantina.
Sebagai gantinya, skuad kini dihimpun di Belgia untuk menjalani sejumlah laga uji coba sebelum bertolak menuju markas kesebelasan di Texas. FIFA mengonfirmasi terus memantau komunikasi dengan pemerintah negara tuan rumah serta badan kesehatan terkait demi memastikan aspek keselamatan terpenuhi.
Stigma buruk global mengenai penyebaran virus ini dinilai menjadi tantangan psikologis tersendiri bagi martabat bangsa DR Kongo di mata internasional. Veron Mosengo-Omba mengingatkan agar publik global tidak menyamaratakan situasi kesehatan di seluruh wilayah negaranya yang sangat luas.
"Beberapa orang berpikir Ebola adalah faktor genetik, sebuah kontaminasi," sebut Veron Mosengo-Omba.
"Itu adalah ketidaktahuan tentang penyakit ini," ujarnya.
"Oke, ada Ebola di DRC, di Ituri, di daerah pedesaan. Karena Kongo itu besar, bukan berarti jika Anda berasal dari DRC Anda langsung terkena Ebola," jelas Veron menambahkan.
"Negara di dunia yang tahu bagaimana memerangi penyakit ini adalah DRC karena kami telah menghadapinya berkali-kali," ucapnya meyakinkan.
"Dunia tidak perlu takut," pungkas Veron.
Wabah yang merebak kali ini dipicu oleh jenis virus Bundibugyo, sebuah varian langka yang telah absen selama lebih dari satu dekade. Belum tersedianya vaksin komersial yang efektif untuk strain ini membuat proses penanganan medis menjadi jauh lebih kompleks.
Kondisi diperparah oleh resistensi sebagian komunitas lokal serta konflik bersenjata berkepanjangan di wilayah timur DR Kongo yang memicu gelombang pengungsian masif. Penumpukan massa di kamp pengungsian menyulitkan penekanan laju penularan, dengan catatan visual mencapai 900 kasus suspek dan 223 angka kematian.
Komplikasi antara isu kesehatan global dan ketegangan geopolitik inilah yang kini menyandera impian olahraga DR Kongo. Sejarah kebangkitan sepak bola yang telah dinanti selama puluhan tahun terancam berjalan sunyi tanpa gemuruh yel-yel suporter fanatiknya.