-
Skuad Timnas Haiti berhasil lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir.
-
Keberhasilan ini diraih di tengah hancurnya fasilitas olahraga domestik akibat pendudukan geng bersenjata.
-
Sepak bola menjadi alternatif krusial untuk menyelamatkan anak-anak Haiti dari rekrutmen milisi kriminal.
Suara.com - Tiket putaran final Piala Dunia 2026 berhasil diamankan oleh Timnas Haiti setelah penantian panjang selama lebih dari setengah abad.
Prestasi historis ini menjadi oase di tengah hancurnya fasilitas olahraga dan matinya ruang publik akibat perang saudara.
Keberhasilan membungkam Nikaragua di Curaçao memicu perayaan masif warga di jalanan ibu kota Port-au-Prince yang biasanya dicekam ketakutan.
![Hasil pembagian grup Piala Dunia 2026 resmi dirilis. Grup I dipastikan jadi grup neraka yang berisikan Prancis, Norwegia, Senegal, dan Irak. Cek daftarnya! [Dok. Philadelphia Soccer 2026]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/01/42223-logo-piala-dunia-2026.jpg)
Momentum kelolosan ini sekaligus mematikan sekat konflik yang selama ini memecah belah negara kepulauan Karibia tersebut.
"Sudah lama sekali Anda tidak melihat rakyat Haiti bersatu seperti ini," kata Louicius Deedson, gelandang berusia 25 tahun yang mencetak gol kemenangan.
Keberhasilan ini tergolong ajaib mengingat skuad Les Grenadiers terpaksa menggelar pemusatan latihan di Florida dan New Jersey akibat situasi domestik yang tidak aman.
PBB mencatat hampir 90 persen wilayah ibu kota kini dikuasai oleh kelompok kriminal bersenjata, termasuk area sekitar Stadion Sylvio Cator yang legendaris.
![Bukan Prancis atau Argentina, Simulasi Matematika Prediksi Negara Ini Juara Piala Dunia 2026 [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/06/71643-piala-dunia-2026.jpg)
Stadion bersejarah yang dulunya menjadi saksi bisu kejayaan sepak bola kini beralih fungsi menjadi kamp pengungsian warga.
Masyarakat mencari perlindungan di sana setelah rumah mereka dibakar dan jalur pasokan logistik kota diputus oleh kelompok milisi.
Situasi mencekam ini membatasi ruang gerak para pemandu bakat internasional untuk memantau talenta lokal secara langsung ke stadion.
Ketakutan kolektif ini juga menutup kesempatan bagi anak-anak lokal untuk mengakses fasilitas latihan yang layak dan mengejar mimpi mereka.
"Saya pikir pindah ke AS adalah hal terbaik bagi saya saat ini," ujar Deedson kepada CNN, mengenang keputusannya bermigrasi saat remaja.
Mayoritas pilar tim nasional saat ini lahir dan berkarier di Eropa, sementara sang pelatih asal Prancis bahkan dilarang masuk ke Haiti.
Di tengah dominasi pemain diaspora, Woodensky Pierre muncul sebagai satu-satunya penggawa dari kompetisi domestik yang menembus skuad utama.
Pierre tumbuh di Cite Soleil, wilayah kumuh yang menjadi pusat pertempuran hingga memaksa lembaga kemanusiaan MSF angkat kaki.
Ekonomi keluarganya yang sulit sempat membuat Pierre putus asa sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa sekolah lewat jalur sepak bola.
"Ada momen di mana saya merasa tidak akan pernah mencapai titik ini karena keadaan sangat sulit, saya tidak punya dukungan, tidak punya apa-apa," tutur Pierre lewat panggilan Zoom.
Dia menambahkan, "Saya tidak tumbuh di keluarga kaya, ibu saya seorang pedagang kaki lima, dan ayah saya selalu melakukan pekerjaan serabutan. Sepak bola adalah semua yang saya miliki."
Kini Pierre bermain untuk Violette Athletic Club dan berhasil membawa klubnya juara di stadion Parc Sainte-Therese, oase kecil yang belum jatuh ke tangan geng.
Kementerian Pemuda dan Olahraga Haiti terus berupaya membangun fasilitas baru sebagai benteng pertahanan anak-anak dari rekruetmen milisi bersenjata.
Langkah ini mendesak dilakukan mengingat data PBB menunjukkan bahwa separuh dari anggota geng kriminal di Haiti merupakan anak-anak di bawah umur.
"Itu membunuh kami, setiap kali kami melihat seorang anak membawa senjata," aku Louis Alex Francois, Direktur Komunikasi Kementerian Pemuda dan Olahraga Haiti.
Dia melanjutkan, "Doa kami (adalah) agar kerusuhan itu berhenti sehingga kami bisa bersama para pemuda dan anak-anak, untuk menawarkan mereka alternatif yang lebih baik, masa depan yang lebih baik."
Mantan agen Pierre yang berbasis di Prancis, Jerome Salbert, menyebut kondisi ekstrem tanah kelahiran justru membentuk ketangguhan mental sang pemain.
"Fakta bahwa dia lahir di lingkungan yang keras di Haiti… dia mengembangkan mentalitas seorang pejuang," jelas Salbert.
Salbert mengonfirmasi bahwa krisis kemanusiaan akut di Haiti membuat proses transfer pemain lokal ke klub luar negeri menjadi sangat rumit.
"Fakta bahwa negara ini (dalam) krisis kemanusiaan, terkadang Anda bisa menghadapi banyak ketidakstabilan dengan para pemain… karena mereka muda, mereka tidak mudah percaya, terkadang mereka tinggal dengan geng di sekitar rumah mereka," papar Salbert lagi.
Konflik bersenjata di Haiti eskalasinya meningkat drastis setelah peristiwa pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada tahun 2021 silam.
Kekosongan kekuasaan dimanfaatkan oleh faksi-faksi kriminal untuk menguasai infrastruktur vital, termasuk membakar Pusat Sasaran FIFA tahun ini.
Deedson sendiri harus mendapati rumah masa kecilnya di Port-au-Prince hangus terbakar akibat serangan brutal salah satu geng tahun lalu.
"Itu adalah segalanya bagi saya sebagai seorang anak muda untuk bisa pergi ke sekolah bersama teman-teman saya dan bermain sepak bola dua kali sehari, setiap hari," kenang Deedson.
Dia menutup pembicaraan dengan keprihatinan mendalam atas nasib generasi penerus di negaranya yang kehilangan panggung.
"Saya tahu ada banyak anak-anak Haiti yang sangat bagus dan mereka hanya ingin kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Ada banyak bakat di sana yang terbuang sia-sia saat ini," pungkasnya.