- Timnas Inggris menang tipis 1-0 atas Selandia Baru melalui gol Harry Kane di Stadion Raymond James, Sabtu (6/6/2026).
- Manajer Thomas Tuchel mengkritik performa timnya yang kurang maksimal akibat kendala adaptasi taktis serta kualitas lapangan yang buruk.
- Inggris akan melakoni laga uji coba terakhir melawan Kosta Rika di Orlando pada Rabu, 10 Juni 2026 mendatang.
Suara.com - Laga uji coba perdana Timnas Inggris di Amerika Serikat memicu gelombang sorotan dari para pencinta sepak bola dunia.
Menghadapi Selandia Baru yang berstatus sebagai kontestan dengan peringkat FIFA terendah di Piala Dunia 2026, skuad The Three Lions hanya mampu memetik kemenangan minimalis dengan skor tipis 1-0.
Bentrokan pemanasan tersebut dilangsungkan di Stadion Raymond James, Tampa, pada Sabtu (6/6/2026) waktu setempat.
Satu-satunya gol pembeda dalam pertandingan tersebut dilesatkan oleh sang kapten, Harry Kane menjelang berakhirnya babak pertama.
Penyerang tajam Bayern Munchen tersebut sukses menanduk bola kiriman umpan silang akurat dari Djed Spence ke sudut tiang jauh gawang lawan.
Di atas kertas, skor tipis ini tentu tidak mencerminkan jurang perbedaan kualitas yang mencolok antara kedua tim nasional.
Inggris merupakan salah satu favorit kuat peraih trofi juara dunia, sedangkan Selandia Baru datang sebagai kontestan terlemah dengan menempati urutan ke-85 pada tabel ranking resmi FIFA, posisi terendah di antara 48 negara peserta turnamen tahun ini.
Menanggapi performa skuad asuhannya yang dinilai kurang meyakinkan, manajer anyar Inggris, Thomas Tuchel melayangkan kritik sekaligus pembelaan atas proses adaptasi taktis para pemainnya di tengah kendala cuaca panas.
Pelatih asal Jerman tersebut mengakui ada aspek permainan yang kurang memuaskan, khususnya pada paruh pertama laga.
"Saya tidak terlalu puas dengan hasil ini. Saya lebih menyukai babak kedua daripada babak pertama," ucap Tuchel dikutip dari Yahoo Sports.
Tuchel menilai intensitas permainan anak asuhnya baru mengalami peningkatan signifikan pasca-jeda turun minum.
"Menurut saya, kami tampil lebih tajam di babak kedua, lebih agresif, baik saat menguasai bola maupun tidak, dan menciptakan lebih banyak peluang," beber Tuchel.
Ia menyoroti hilangnya kedisiplinan posisi pemain pada 45 menit pertama sebagai pemicu tumpulnya serangan.
"Di babak pertama, kami keluar dari posisi dan gaya permainan kami terlalu bebas," ujar mantan manajer Chelsea ini.
"Hal itu memperlambat dan menyulitkan serangan balik karena kami tidak berada di posisi yang diinginkan saat mulai menyerang, jadi itulah intinya dari pertandingan ini," sambungnya lagi.
Lebih lanjut, mantan juru taktik Chelsea tersebut meminta publik untuk memahami keterbatasan masa persiapan tim nasional.
Kurangnya waktu kebersamaan antarpemain dinilai wajar membuat koordinasi antarlini belum berjalan dengan sempurna.
"Untuk memberi konteks, banyak pemain kami terakhir kali tampil bersama pada November, jadi sudah setengah tahun yang lalu," ucap Tuchel.
"Kami menjalani empat sesi latihan bersama dan benar-benar merombak susunan tim."
"Jadi kami belum pernah bermain dengan kombinasi dan formasi ini sebelumnya agar semua orang mendapat kesempatan bermain 45 menit," imbuhnya.
Selain kendala kekompakan tim, buruknya kualitas lapangan Stadion Raymond James juga dikeluhkan Tuchel karena menghambat aliran operan cepat timnya.
Kendati demikian, ia merasa lega karena tidak ada pemainnya yang terkena cedera.
"Dengan kondisi lapangan seperti ini sangat sulit untuk bermain di atasnya," jelasnya lagi.
"Saya pikir tidak ada masalah cedera dan tidak ada kekhawatiran, tapi lapangan sangat tidak rata. Sulit untuk menggerakkan bola dengan cepat," pungkas Tuchel.
Sebelum resmi bersaing di babak penyisihan grup Piala Dunia 2026, skuad Tiga Singa masih menyisakan satu agenda pertandingan uji coba terakhir.
Harry Kane dan kawan-kawan dijadwalkan akan menantang Kosta Rika di Orlando pada Rabu (10/6/2026), tepat satu minggu sebelum melakoni partai pembuka turnamen melawan Kroasia pada 17 Juni mendatang.