-
Timnas Spanyol fokus memulihkan mentalitas dan strategi di Chattanooga usai hasil imbang mengejutkan.
-
Mikel Merino mengklarifikasi metafora duka sebagai cerminan kekecewaan mendalam akibat kegagalan meraih kemenangan.
-
Skuad La Roja menjadikan perjalanan juara Argentina dan Spanyol 2010 sebagai inspirasi kebangkitan.
Suara.com - Timnas Spanyol langsung mengalihkan fokus untuk membenahi performa menjelang laga hidup-mati melawan Arab Saudi di Piala Dunia 2026, Minggu besok.
Hasil imbang tanpa gol melawan Tanjung Verde memaksa skuad La Roja mengevaluasi mentalitas bertanding mereka secara mendalam.
Pasukan Luis de la Fuente kini telah kembali ke markas latihan mereka di Chattanooga, Tennessee.
![Pemain muda Borussia Dortmund Mikel Merino [AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2017/07/28/80036-mikel-merino.jpg)
Mereka memiliki waktu 5 hari untuk memulihkan kondisi fisik sekaligus menghilangkan kegusaran akibat kegagalan mendulang poin penuh.
Gelandang Arsenal, Mikel Merino, mengakui bahwa ruang ganti sempat diselimuti kekecewaan yang sangat berat.
Namun, situasi tersebut dinilai wajar bagi sebuah tim dengan ekspektasi dan jiwa kompetitif yang tinggi.
"Setiap pemain memiliki caranya sendiri untuk menghadapi masa berduka," ujar Merino kepada jurnalis dalam konferensi pers setengah jam pada hari Selasa.

"Beberapa ada yang suka langsung menonton video pertandingan ulang. Yang lain lebih memilih untuk memutus koneksi. Ini adalah momen untuk menelan kekecewaan karena tidak mendapatkan 3 poin. Kami sudah memikirkan apa yang harus kami tingkatkan."
Pernyataan tersebut sempat memicu spekulasi bahwa internal tim sedang mengalami guncangan hebat pasca-laga perdana.
Merino segera meluruskan maksud dari penggunaan istilah yang dinilai terlalu dramatis oleh para jurnalis.
"Mungkin saya tidak mengekspresikan diri dengan baik, itu adalah upaya metafora, sebuah perbandingan," kata Merino memberikan klarifikasi.
"Tidak ada yang meninggal. Ini bukan berduka yang seperti itu. Namun terkadang kekalahan terasa seperti itu. Ketika Anda sangat kompetitif, Anda ingin berada di performa terbaik Anda. Ketika Anda tidak mencapainya, Anda pulang ke rumah dan Anda bahkan tidak ingin berbicara dengan keluarga Anda. Itulah mengapa ini sedikit seperti berduka."
Menatap masa depan di turnamen ini, Merino optimistis dinamika grup masih sangat terbuka bagi siapa saja.
Ia mencontohkan Argentina pada Piala Dunia 2022 yang mengawali kompetisi dengan kekalahan mengejutkan sebelum akhirnya menjadi kampiun.
"Banyak cerita hebat dimulai dengan pertandingan yang tidak terlalu bagus," tutur mantan pemain Real Sociedad tersebut.
"Seperti juara dunia terakhir, yang memulai dengan kalah dari Arab Saudi pada tahun 2022 dan berakhir dengan memenangkannya... Ini masih awal, kami memiliki ruang untuk perbaikan."
Ia juga mengingatkan publik pada generasi emas Spanyol tahun 2010 yang takluk dari Swiss di laga pembuka.
Kritik tajam yang melanda saat itu justru menjadi bahan bakar utama bagi Xavi Hernandez dan kolega untuk bangkit meraih trofi.
"Generasi emas 2010 itu kalah di pertandingan pertama, melewati momen-momen sulit, dan mereka mendapat banyak kritik," tambah Merino penuh semangat.
"Kemudian mereka membalikkan keadaan. Mereka adalah contoh yang baik untuk diikuti, mereka bisa menjadi inspirasi."
Kini, tantangan terbesar Spanyol adalah menjaga fokus pikiran di tengah jeda pertandingan yang cukup panjang.
Waktu yang ada juga dimanfaatkan untuk memulihkan kebugaran penuh para pilar muda seperti Lamine Yamal dan Nico Williams.
"Setelah Anda tidak menang, hal pertama yang ingin Anda lakukan adalah bermain lagi, untuk menghilangkan rasa tidak enak di mulut Anda," jelas Merino mengenai kondisi psikologis tim.
"Kami memiliki banyak waktu untuk memikirkannya sekarang, jadi ini adalah tantangan mental."
Kehadiran para pemain muda juga disebut memberikan atmosfer positif yang menjaga ruang ganti tetap ceria.
Kombinasi antara energi anak muda dan ketenangan para senior menjadi modal utama Spanyol untuk melangkah lebih jauh.
"Lamine terlihat baik-baik saja, saya baru saja bersamanya dan dia bercanda seperti biasa. Dia tidak kehilangan energi yang menjadi cirinya," pungkas Merino.
"Para [pemain muda] memberi kami energi itu, percikan itu, dan kami [para veteran] memberi mereka ketenangan yang terkadang Anda butuhkan. Itulah yang saya sukai dari skuad ini, skuad ini sangat seimbang."
Sebagai informasi latar belakang, Spanyol datang ke turnamen ini dengan status salah satu tim favorit juara.
Namun, penampilan gemilang kiper Vozinha yang menjadi MVP laga berhasil meredam agresivitas lini serang Spanyol dalam matchday pertama Grup H di Atlanta.