-
Argentina lolos ke final Piala Dunia setelah mengalahkan Inggris dengan skor tipis 2-1.
-
Gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez membalikkan keunggulan yang sempat diraih Anthony Gordon.
-
Lionel Scaloni memuji daya juang timnya yang kini bersiap menghadapi Spanyol di final.
Suara.com - Argentina berhasil melangkah ke babak final Piala Dunia 2026 setelah memanfaatkan kelengahan taktik bertahan Inggris. Keputusan Thomas Tuchel untuk mempertahankan keunggulan tipis justru menjadi celah fatal yang dimanfaatkan oleh sang juara bertahan.
Strategi pasif Inggris di babak kedua memberikan keleluasaan penuh bagi Albiceleste untuk membalikkan keadaan. Pendekatan pragmatis tersebut terbukti keliru menghadapi mentalitas baja anak asuh Lionel Scaloni yang terbiasa keluar dari tekanan.
Kemenangan dramatis ini membuktikan bahwa Argentina memiliki insting membunuh yang sangat tajam saat lawan mulai ragu. Mereka langsung menghukum taktik bertahan total Inggris dengan intensitas serangan yang bertubi-tubi.
![Pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni, mengaku kehabisan kata usai penampilan luar biasa Lionel Messi pada laga pembuka Piala Dunia 2026. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/17/39465-lionel-scaloni-lionel-messi.jpg)
"Tim ini bermain terbaik saat menghadapi kesulitan," kata Scaloni setelah kemenangan timnya, dikutip dari ESPN.
"Lawan sedikit ragu, kami mencium bau kemenangan, dan kami langsung menyerang. Itulah perasaan yang tersisa dalam diri saya."
Pertandingan semifinal ini berjalan sangat ketat sejak awal laga. Inggris sebenarnya sempat membuka harapan lewat gol pembuka yang dicetak oleh Anthony Gordon pada menit ke-55.
Namun, keunggulan Tiga Singa runtuh ketika Enzo Fernandez mencetak gol penyeimbang yang krusial pada menit ke-85. Harapan Inggris musnah sepenuhnya setelah pemain pengganti Lautaro Martinez menyundul bola masuk ke gawang pada menit kedua masa injury time.
Hasil dramatis ini membuat Lionel Scaloni kembali melayangkan pujian tinggi bagi seluruh anak asuhnya. Skuad Albiceleste dinilai memiliki keunikan tersendiri yang membuat mereka selalu tampil berbeda di laga krusial.
"Ini adalah kebahagiaan luar biasa bagi negara dan rakyat kami, dan kelompok ini tak henti-hentinya membuat saya kagum," ujar Scaloni.
"Kami akan mengerahkan segalanya [di laga final], namun setelah ini, situasinya akan sangat berat... Ini bukan kesombongan, tetapi kami memang istimewa."
Scaloni menegaskan bahwa dirinya tetap akan bangga terhadap perjuangan tim terlepas dari hasil akhir pertandingan. Baginya, komitmen pemain di lapangan jauh lebih berharga daripada sekadar skor di papan digital.
"Kami akan tetap merasa puas meskipun kalah, karena kami tahu kami telah mengerahkan segalanya dan menciptakan enam atau tujuh peluang mencetak gol," ujar Scaloni.
"Sepak bola bukan hanya soal bermain hebat, seperti yang kami lakukan di babak kedua. Ini soal segalanya, termasuk tahu caranya menderita."
Kemenangan ini menambah panjang catatan sejarah keberhasilan Argentina dalam menghentikan mimpi Inggris di turnamen akbar. Momen krusial ini kini bersanding dengan laga-laga bersejarah kedua negara pada Piala Dunia tahun 1986 dan 1998.
Meski demikian, Scaloni enggan membandingkan atmosfer pertandingan malam ini dengan laga legendaris era Diego Maradona. Fokus utama timnya kini telah sepenuhnya beralih ke partai puncak yang sudah di depan mata.
"Saya tidak bisa membandingkannya dengan pertandingan melawan Inggris [di Piala Dunia 1986] itu... Gol kedua Diego [Maradona] sungguh luar biasa; gol itu tercatat dalam sejarah," ujar Scaloni.
"Pertandingan ini lebih menegangkan daripada laga melawan Mesir, meskipun hari ini kami bermain lebih baik; semuanya sungguh luar biasa."
Kini Argentina berpeluang besar menyamai rekor legendaris Brasil pada tahun 1962 sebagai tim yang memenangkan Piala Dunia berturut-turut. Ujian terakhir mereka adalah menghadapi Spanyol pada laga final hari Minggu mendatang.
"Kita harus menikmati momen ini sekarang, karena besok kita mulai memikirkan pertandingan final hari Minggu melawan Spanyol," tutup Scaloni.
