- Iker Casillas mengkritik taktik defensif Thomas Tuchel yang menyebabkan Timnas Inggris kalah dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026.
- Strategi bertahan total Tuchel membuat Inggris kehilangan kendali lini tengah dan membiarkan Argentina mencetak dua gol kemenangan.
- Kegagalan taktis tersebut memaksa Inggris menjalani laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis di Hard Rock Stadium, Miami.
Suara.com - Legenda sepak bola Spanyol, Iker Casillas, melontarkan kritik pedas terhadap taktik Thomas Tuchel yang dinilainya membuat Timnas Inggris tampil seperti pengecut saat disingkirkan Argentina di semifinal Piala Dunia 2026.
The Three Lions tersingkir setelah kebobolan dua gol di menit-menit akhir. Casillas menilai strategi bertahan total yang diterapkan Tuchel justru memudahkan Argentina membalikkan keadaan.
Menurut mantan kapten Real Madrid dan Timnas Spanyol itu, pendekatan defensif Inggris menjadi penyebab utama gagalnya mereka melangkah ke partai puncak.
"Cetak gol lalu bertahan. Pendekatan pengecut. Mereka tidak keluar dari kotak penalti mereka sendiri dan membiarkan Argentina lebih leluasa menyerang. Hasil logisnya pun terjadi," tulis Casillas melalui akun X miliknya.
Strategi Bertahan Tuchel Jadi Sorotan
![Penjaga gawang tim nasional Spanyol dan FC Porto, Iker Casillas [AFP/Mehdi Fedouach]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2016/08/25/o_1aqvuir96d7rkethi5dige7ei.jpg)
Casillas menilai Inggris tidak layak melaju ke final karena memilih bermain terlalu defensif setelah unggul lebih dulu.
Inggris sempat memimpin lewat gol Anthony Gordon pada menit ke-55. Namun, sejak menit ke-72 Tuchel mengubah pendekatan permainan dengan menarik Gordon dan memasukkan bek tengah Ezri Konsa.
Ia kemudian menambah pemain bertahan seperti Nico O'Reilly dan Dan Burn demi mempertahankan keunggulan.
Keputusan tersebut mengubah pola permainan Inggris dari formasi 4-2-3-1 menjadi 5-4-1 yang sangat pasif.
Alih-alih meredam serangan Argentina, strategi itu justru membuat The Three Lions terus ditekan.
Setelah Declan Rice ditarik keluar, lini tengah Inggris kehilangan keseimbangan. Lionel Messi pun mendapat ruang lebih luas untuk mengatur serangan.
Hasilnya, Messi mencatatkan dua assist yang berujung pada gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.
Scaloni Lebih Berani Ambil Risiko
Berbeda dengan Tuchel, pelatih Argentina Lionel Scaloni justru memilih pendekatan agresif saat timnya tertinggal.
Scaloni melakukan lima pergantian pemain, termasuk memasukkan Nico Gonzalez untuk menggantikan Leandro Paredes demi menambah daya serang.
Pada menit ke-81, ia juga menarik bek kiri Nicolas Tagliafico dan memasukkan Lautaro Martinez sebagai tambahan penyerang.
Strategi menyerang habis-habisan itu membuahkan hasil ketika Lautaro mencetak gol kemenangan Argentina.
Ironisnya, Lautaro yang memiliki tinggi 1,74 meter mampu memanfaatkan celah di antara John Stones dan Ezri Konsa yang bertubuh lebih tinggi.
Sementara itu, sederet pemain kreatif Inggris seperti Bukayo Saka, Noni Madueke, dan Kobbie Mainoo justru tidak dimanfaatkan untuk menjaga tekanan kepada lawan.
Fabregas Pernah Ingatkan Risiko Menambah Bek
Kekalahan Inggris juga mengingatkan pada analisis Cesc Fabregas mengenai risiko memasukkan terlalu banyak pemain bertahan saat unggul.
"Misalnya Anda sedang unggul 1-0 lalu mengganti gelandang atau penyerang dengan bek pada 10 atau 15 menit terakhir. Secara otomatis pola pikir tim berubah menjadi bertahan," ujar Fabregas.
"Akibatnya, Anda justru mengundang tekanan. Lawan lebih banyak menguasai bola, lebih leluasa menyerang, dan menjadi lebih berbahaya," lanjutnya.
Apa yang dialami Inggris berbanding terbalik dengan Spanyol. Saat menyingkirkan Prancis di semifinal, pelatih Luis de la Fuente tetap mempertahankan identitas menyerang timnya meski sudah unggul.
Kini, Inggris harus puas tampil di laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis di Hard Rock Stadium, Miami.
Meski masih berpeluang meraih peringkat ketiga, kritik Casillas dipastikan akan terus membayangi keputusan taktis Thomas Tuchel di semifinal Piala Dunia 2026.
