- Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife setelah mengalahkan Argentina dengan skor tipis satu nol.
- Gol Ferran Torres pada babak tambahan waktu memastikan gelar juara kedua bagi tim nasional Spanyol tersebut.
- Argentina tampil buruk dengan catatan 25 pelanggaran, satu kartu merah, serta minimnya peluang mencetak gol sepanjang laga.
Suara.com - Final Piala Dunia 2026 berlangsung tak seimbang. Spanyol datang untuk bermain sepak bola, sementara Argentina lebih banyak berupaya memutus ritme permainan lawan.
Final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, menjadi panggung dominasi La Roja atas Tim Tango yang tampil di bawah performa terbaiknya.
Berdasarkan data Opta, hanya ada satu tim yang layak mengangkat trofi juara setelah melihat statistik pertandingan yang sangat timpang.
![Spanyol juara Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Argentina 1-0. La Roja meraih gelar kedua dan kini sejajar dengan Prancis serta Uruguay. [FIFA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/20/44268-spanyol-juara-piala-dunia-2026.jpg)
Keberhasilan Ferran Torres mencetak gol pada babak tambahan waktu mengingatkan publik pada gol penentu Andres Iniesta di final Piala Dunia 2010.
Di balik kemenangan Spanyol, terdapat sederet catatan buruk yang membayangi penampilan Argentina sebagai juara bertahan.
Tujuh Statistik Buruk Argentina
1. Baru Melepas Tembakan pada Menit ke-116
Argentina tidak mampu melepaskan satu pun tembakan hingga pertandingan memasuki menit ke-116.
Saat itu, Spanyol sudah mencatatkan 20 percobaan tembakan ke gawang Argentina.
2. Selisih Tembakan Sangat Mencolok
Hingga laga berakhir, Spanyol membukukan 20 tembakan, sedangkan Argentina hanya dua.
Selisih 18 tembakan menjadi catatan terburuk kedua dalam sejarah final Piala Dunia.
Rekor terburuk masih terjadi pada final 1990 ketika Jerman Barat melepaskan 23 tembakan, sementara Argentina hanya satu.
3. Didominasi di Sepertiga Akhir Lapangan
La Roja menguasai jalannya pertandingan, termasuk di wilayah sepertiga akhir lapangan.
Spanyol mencatatkan 235 operan sukses di area tersebut, sedangkan Argentina hanya 47 operan.
Catatan itu menghasilkan angka field tilt sebesar 83,3 persen untuk keunggulan Spanyol.
4. Melakukan 25 Pelanggaran
Kesulitan mengimbangi permainan Spanyol membuat Argentina bermain lebih keras.
Tim asuhan Lionel Scaloni melakukan 25 pelanggaran sepanjang pertandingan, jumlah terbanyak dalam satu laga Piala Dunia sejak final 2022.
5. Enzo Fernandez Kartu Merah
Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua usai melakukan pelanggaran terhadap Pau Cubarsi.
Ia menjadi pemain keenam yang mendapat kartu merah dalam sejarah final Piala Dunia.
Argentina kini menyumbang tiga dari enam kartu merah yang pernah terjadi di partai final, setelah Pedro Monzon dan Gustavo Dezotti pada 1990.
6. Emiliano Martinez Bekerja Sendirian
Meski kalah, Emiliano Martinez tampil gemilang dengan mencatatkan 11 penyelamatan.
Jumlah tersebut bahkan lebih banyak dibanding total penyelamatan yang dibukukan kiper Spanyol, Unai Simon (10), sepanjang Piala Dunia 2026.
7. Lini Depan Tumpul
Spanyol menutup turnamen dengan hanya kebobolan satu gol dalam delapan pertandingan.
Tim asuhan Luis de la Fuente juga tidak pernah berada dalam posisi tertinggal sepanjang turnamen.
Lini depan Argentina yang dipimpin Lionel Messi terbukti tumpul, dan tak mampu melakukan banyak perubahan hingga laga berakhir.
Spanyol Lengkapi Dominasi
Keberhasilan menjuarai Piala Dunia 2026 membuat Spanyol menggenggam dua gelar mayor sekaligus, yakni Piala Eropa dan Piala Dunia.
La Roja menjadi negara keempat yang mampu menyandang status tersebut setelah Jerman Barat, Prancis, dan generasi emas Spanyol pada periode 2008-2012.
Kemenangan di New Jersey juga memperpanjang rekor tak terkalahkan Spanyol menjadi 38 pertandingan di level internasional.
