- Timnas Argentina kalah 0-1 dari Spanyol dalam final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey.
- Hasil tersebut mengulang tragedi final 1990 karena Argentina gagal mempertahankan gelar juara sebagai tim bertahan.
- Lionel Messi tidak mampu mencetak peluang signifikan akibat dominasi Spanyol yang melepaskan total 20 tembakan.
Suara.com - Kekalahan menyakitkan Timnas Argentina dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026 seolah mengulang siklus kelam yang pernah dialami La Albiceleste 36 tahun silam.
Gagal mempertahankan gelar juara dunia membuat Argentina mengalami deja vu tragedi yang pernah menimpa Diego Maradona pada final Piala Dunia 1990.
Lionel Messi, yang tampil gemilang sepanjang turnamen, justru kehilangan sentuhan magisnya saat Argentina paling membutuhkan sosok pemimpin di lapangan.
Deja Vu Tragedi Final 1990

Sejumlah media olahraga internasional menyoroti betapa timpangnya jalannya laga yang berakhir dengan kemenangan 1-0 Spanyol di Stadion MetLife, New Jersey.
Secara statistik, final Piala Dunia 2026 bahkan disebut sebagai laga final paling berat sebelah sejak edisi 1990.
Ada sejumlah kesamaan mencolok antara kekalahan tim asuhan Lionel Scaloni pada 2026 dan Argentina besutan Carlos Bilardo pada final 1990.
1. Datang sebagai Juara Bertahan, Pulang Tanpa Trofi
Pada kedua edisi tersebut, Argentina datang dengan status juara bertahan.
Mereka berpeluang mencatatkan gelar juara dunia secara beruntun, tetapi ambisi itu kandas setelah dikalahkan wakil Eropa di partai final.
2. Redupnya Sang Nomor 10
Pada final 1990, Diego Maradona gagal memberikan pengaruh besar saat menghadapi Jerman Barat di Stadion Olimpico, Roma.
Situasi serupa dialami Lionel Messi di final 2026. Kapten Argentina kesulitan menciptakan peluang berarti selama 120 menit di bawah dominasi Spanyol.
3. Statistik Tembakan Sangat Jomplang
Pada final 1990, Argentina hanya mencatatkan satu tembakan, sedangkan Jerman Barat melepaskan 23 percobaan.
Gambaran serupa kembali terjadi pada 2026. Argentina baru mampu melepaskan tembakan pertama pada menit ke-117, sementara Spanyol sudah mencatatkan 20 tembakan.
4. Sama-sama Diwarnai Kartu Merah
Frustrasi menghadapi dominasi lawan membuat Argentina kehilangan kendali emosi pada kedua final tersebut.
Pada final 1990, Pedro Monzon dan Gustavo Dezotti diusir wasit karena menerima kartu merah.
Sementara di final 2026, Enzo Fernandez harus meninggalkan lapangan lebih cepat setelah menerima kartu kuning kedua menjelang berakhirnya waktu normal.
5. Kalah Tipis Lewat Gol Penentu
Kesamaan terakhir adalah skor akhir yang sama-sama berakhir 0-1.
Pada final 1990, Andreas Brehme menjadi penentu kemenangan Jerman Barat melalui eksekusi penalti.
Sedangkan pada final 2026, Ferran Torres mencetak gol kemenangan Spanyol pada menit ke-106 babak perpanjangan waktu.
Dominasi Spanyol di Final
Meski tampil dominan, penyelesaian akhir Spanyol sebenarnya belum sepenuhnya efisien.
Tim asuhan Luis de la Fuente membutuhkan 20 tembakan untuk menghasilkan expected goals (xG) sebesar 1,94.
Gaya bermain sabar dan berbasis penguasaan bola yang diperagakan La Roja mengingatkan publik pada era kejayaan mereka saat menjuarai Piala Dunia 2010.
Terlepas dari efektivitas yang belum maksimal di lini depan, dominasi Spanyol sepanjang pertandingan membuat gelar juara dunia kedua mereka layak diraih.
