SUARA CIANJUR - Berawal dari pemberian bonus yang macet kepada juara Liga 1 2022/2023 yakni PSM Makassar. Erick Thohir selaku Ketua Umum dari PSSI berencana untuk melakukan audit kepada PT LIB selaku operator penyelenggara Liga Indonesia sebelum kompetisi kembali berlanjut Juli nanti.
"Audit ini diperlukan agar terjadi kejelasan dan perbaikan pada pengelolaan keuangan pada seluruh pemangku kepentingan persepakbolaan Indonesia." kata Erick Thohir saat jumpa pers dengan media di PSSI, Jakarta, Rabu (19/4).
"Saya akan lakukan bersih - bersih (baik di Liga maupun PSSI). Harus bisa dipertanggungjawabkan. Apa yang di Liga dan apa di PSSI. Semua harus terbuka agar tidak saling menyalahkan atau menjatuhkan. Baik Liga, PSSI, maupun Klub," lanjutnya.
Rasa penasaran Erick Thohir semakin mengundang, ketika ia mengaku sempat mendengar ada dana yang ditransfer dari LIB ke PSSI namun dana tersebut tidak diketahui kemana perginya.
"Saya dengar, dalam kerja sama antara LIB dengan PSSI yang sudah berjalan sebelumnya, ada pembayaran LIB ke PSSI melalui transfer. Nah, hal ini juga akan saya audit nanti, uangnya kemana?" ungkap Ketua Umum PSSI yang juga Menteri BUMN itu.
Namun Erick Thohir juga tidak mau mencurigai dan menyalahkan siapapun. Ia menambahkan, dirinya hanya ingin semua pihak terbuka, karena sepak bola ini milik masyarakat dan pihaknya hanya ditugasi untuk membersihkan segala sesuatu yang bersifat menyimpang pada sepak bola Tanah Air.
"Tanpa menyalahkan siapa - siapa. Kan mau terbuka. Apalagi sepakbola ini milik rakyat. Kami ini hanya ditugaskan untuk membersihkan," tambahnya.
Selain itu, perlu diketahui juga saham PSSI pada Liga Indonesia hanya sebesar 1 persen saja. Hal ini sangat berbanding jauh dari sepak bola Malaysia, dimana federasinya memiliki 60 persen saham dari liganya.
"Hal ini juga akan diaudit, termasuk digunakan untuk kepentingan apa dan dihitung sebagai penerimaan apa di PSSI pemasukan dari saham itu." ujar Erick Thohir.
Baca Juga: Mimi Peri Bagi-Bagi THR ke Warganet, Nominalnya Ada yang Rp20 Ribu Langsung Panen Komentar Nyinyir
"Di Malaysia, federasi sepakbola memiliki saham 60% di liganya. Tapi di Indonesia sangat demokrasi, hanya 1%. Luar biasa. Namun, saya akan tetap hormati keputusan para pendahulu kita. Saya hormati kesepakatan sebelumnya," jelasnya.
Sumber: pssi.org