“Kedua saya nggak punya urat pejabat. Kalo jadi pejabat itu mesti ada uratnya. Harus tebel muka dikit, tebel-tebel kuping dikit, jadi urat malu harus ada. Kalau saya kan belum numbuh urat malunya,” ujarnya.
Ketimbang jadi pejabat, Jusuf Hamka mengaku lebih suka menjadi manusia yang merdeka, dalam artian punya waktu bebas tanpa diatur siapa pun.
“Saya mau jadi manusia merdeka. Merdeka dalam mengatur waktu. Tidak diatur. Kalau saya jadi pejabat, saya diatur,” tuturnya.
Karena itu, ia hanya berharap agar rakyat Indonesia bisa mendapatkan pemimpin yang mengerti perekonomian dan pola-pola kepemimpinan.
“Mudah-mudahan pemimpin yang akan datang ini bisa mengerti ekonomi dan pola-pola kepemimpinan,” pungkasnya. (*)