Suara Denpasar - Ketua Pelaksana Kegiatan Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Eng. Asep Saepuloh ST M. Eng, kembali melaksanakan Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Karangasem (Bali) selama empat hari, tanggal 19 hingga 23 Juli 2023.
Selama ini, pihaknya sudah melakukan empat kali penelitian dan pengamatan dalam empat tahun yakni Tahun 2018, 2019, 2022 dan 2023 di SMPN 3 Bebandem, Karangasem, Bali.
Program Pengabdian Masyarakat Skema Bottom Up ITB Tahun 2023 berjudul "Pengembangan Sistem Tanggap Bencana Dan Monitoring Aliran Lahar dan Erosi Sungai di Sekolah Siaga Bencana SMPN 3 Bebandem, Karangasem, Bali".
Pada Pengabdian tahun 2023 ini Dr. Eng. Asep Saepuloh mengatakan bahwa SMPN 3 Bebandem sebagai salah satu sekolah yang ada di lereng Gunung Agung (Bali).
"Sekolah itu berada dalam Kawasan Rawan Bencana III Gunung api berupa potensi bahaya dari awan panas, abu vulkanik, erosi, longsor dan lahar. Selain itu, sekolah tersebut memiliki potensi bencana hidrometeorologi," katanya.
Adapun Hasil visualisasi drone dapat diketahui bahwa material sungai di sekitar sekolah adalah gravel (natural w/sand) dan sand (dry/water filled) yang memiliki sudut runtuhan (repose of angle) 25°-30° yang bisa dihitung menggunakan rumus trigonometri.
Asumsi dengan menggunakan angka 30° sebagai sudut dinding sungai maksimum agar tidak terjadi erosi atau longsoran tebing sungai.
Namun pada kenyataannya sudut tebing sungai yang melewati SMPN 3 Bebandem sudah 90° (tegak) sehingga berpotensi tinggi untuk longsor.
"Berdasarkan hasil penelitian pada tahun 2018, 2019, dan 2022, diperoleh perubahan signifikan yang terjadi di area sekolah. Awal luas sekolah adalah 10.000 meter persegi pada tahun 2018 dan pada akhir tahun 2022 menjadi 9.338 meter persegi," sambung Dr. Eng.
Baca Juga: Fakta Dennis Wise, Duet Bima Sakti di Timnas Indonesia U-17, Pilihan Tepat Erick Thohir
Dia menjelaskan perubahan tersebut dapat dihitung menggunakan rumus kecepatan erosi lateral v = luas kedua area/selang waktu (t) (1) dimana v1 = (12.472-11.643)/11,2 = 74,1 m2/bln (tahun 2018 ke 2019=11,2 bulan) v2 = (11.643-9.338)/40,5 = 56,9 m2/bln (tahun 2019 ke 2022=40,5 bulan) v3 = (9.338-8.633)/6 = 117,5 m2/bln (tahun 2022 ke 2023=6 bulan).
Maka diperoleh hasil kecepatan erosi lateral yang diperoleh antara tahun 2018 ke 2019 (jeda waktu pengamatan = 11,2 bulan) adalah 74,1 m2/bln, tahun 2019 ke 2022 (jeda waktu pengamatan = 40,5 bulan) adalah 56,9 m2/bln, dan tahun 2022 ke 2023 (jeda waktu pengamatan 6 bulan) adalah 117,5 m2/bulan.
"Dari hasil perhitungan kecepatan rata-rata erosi diperoleh bahwa sekolah diperkirakan berpotensi tergerus dalam waktu kurang dari 10 tahun," katanya menyimpulkan.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, terdapat tiga rekomendasi, yaitu rekomendasi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Rekomendasi jangka pendek adalah penguatan Sekolah Siaga Bencana (SSB), seperti peningkatan kapasitas semua civitas sekolah, penyiapan rute dan evakuasi teraman dan tercepat, peningkatan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana dan menyelenggarakan simulasi evakuasi bencana secara berkala.
Rekomendasi jangka menengah yaitu merekayasa/penguatan infrastruktur sekolah, seperti normalisasi kemiringan aman lereng sungai, penguatan dinding sungai, dan kajian Teknik sipil untuk penguatan bangunan seperti retrofitting.