"Itu memberi saya kekuatan dan kepercayaan diri... Saya merasa berbeda, dan mampu melakukan apa yang saya inginkan tanpa perwalian siapa pun", kata Rose, yang tidak mau menyebutkan nama lengkapnya.
Ia juga menjelaskan, pada awalnya, keluarganya menolak jenis potongan tersebut. Karena, itu merupakan sebuah hal yang baru.
"Awalnya keluargaku menolak potongan ini, tapi lama kelamaan mereka terbiasa," tambahnya.
Penerimaan tersebut sebagian mencerminkan pengaruh dari bintang Arab seperti artis Yasmin Raeis atau penyanyi Shirene, yang telah mengadopsi gaya tersebut, menurut stylist Mesir Mai Galal.
"Wanita yang memotong rambutnya dengan cara ini adalah wanita yang karakternya kuat karena tidak mudah bagi wanita untuk membuang rambutnya," kata Galal kepada AFP.
Nouf, yang bekerja di sebuah toko kosmetik, menggambarkan pesan di balik tren potongan "boy".
"Kami ingin mengatakan bahwa kami ada, dan peran kami dalam masyarakat tidak jauh berbeda dengan peran laki-laki di masyarakat," ucapnya.
Rambut pendek, tambahnya, adalah "pertunjukan kekuatan wanita," lanjutnya.
Perubahan kebijakan bagi wanita Arab Saudi
Baca Juga: Pasutri di Palangka Raya Dibacok OTK hingga Tewas, Polisi Lakukan Penyelidikan
Pencabutan persyaratan hijab hanyalah salah satu dari banyak perubahan bagi wanita Saudi di bawah Pangeran Mohammed, yang dinobatkan sebagai pewaris ayahnya yang berusia 86 tahun, Raja Salman, lima tahun lalu.
Wanita Saudi tidak lagi dilarang mengikuti konser dan acara olahraga. Pada 2018, wanita Arab Saudi juga diperbolehkan mendapatkan hak untuk mengemudi.
Kerajaan Saudi juga melonggarkan apa yang disebut aturan perwalian, yang berarti perempuan sekarang dapat memperoleh paspor dan bepergian ke luar negeri tanpa izin kerabat laki-laki.
Meski begitu, reformasi semacam itu masih disertai dengan tindakan keras terhadap aktivis hak-hak perempuan, yang merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas melawan perbedaan pendapat.
Mendapatkan lebih banyak perempuan untuk bekerja, adalah komponen utama dari rencana reformasi Visi 2030 Pangeran MBS, untuk membuat Arab Saudi tidak terlalu bergantung pada minyak.
Rencana tersebut awalnya menyerukan agar perempuan menyumbang 30 persen dari angkatan kerja pada akhir dekade ini.