Liputan Khas

KHAS adalah sajian beragam artikel dengan topik-topik menarik hasil liputan khusus/khas dari tim redaksi Suara.com.

Memahami Dunia Yanni, Sang Penyihir di Hari Kedua Prambanan Jazz 2019

Dany Garjito | Aditya Prasanda
Memahami Dunia Yanni, Sang Penyihir di Hari Kedua Prambanan Jazz 2019
(Prambanan Jazz Official)

Komposer fenomenal nan merebut perhatian di helatan hari kedua Prambanan Jazz 2019.

Suara.com - Ribuan penonton yang memadati panggung istimewa di venue Special Show, Prambanan Jazz 2019, Sabtu (6/7) begitu beruntung menjadi saksi penampilan bersejarah salah satu komposer paling fenomenal abad ini, Giannis Chrysomallis atau yang lebih populer dikenal, Yanni.

Berlatarkan situs Candi Prambanan nan magis, selama sekitar 120 menit, komposer asal Yunani tersebut menyihir para penggemarnya dengan deretan karya-karya terbaik.

Tercatat, sekitar 23 lagu ia bawakan. Didukung 11 musisi dengan penguasaan instrumen kelas wahid dan seorang soprano wanita bersuara tinggi nan membius.

Tim Suara.com menjadi salah satu yang beruntung menyaksikan penampilan menakjubkan tersebut. Kami mencatat momen terbaik itu dalam:

Memahami Dunia Yanni, Sang Penyihir di Hari Kedua Prambanan Jazz 2019

(Prambanan Jazz Official)
(Prambanan Jazz Official)

Tepat pukul 21.00 WIB, deretan lampu sorot yang menghadap penonton di arena Special Show, Prambanan Jazz 2019 meredup.

Penonton yang perlahan beringsut memetakan posisi duduk mereka, mendadak riuh, tahu betul pertanda apa lampu sorot dipadamkan.

Kini di hadapan kami, yang tersisa hanya lampu utama, mengarah tepat ke panggung, tempat sang penampil yang jadi headliner pamungkas Prambanan Jazz 2019 tahun ini, Yanni berada.

Sebuah set mini orkestra disiapkan, satu per satu musisi menempati pos mereka masing-masing. Di deretan pertama, cello, violin, viola, dan seksi brass berdiam. Sementara di area belakang, perkusi, bass elektrik, drum dan keyboard mengambil tempat.

Bercokol paling depan, sebuah grand piano dan dua keyboard bertingkat bak singgasana yang sengaja disiapkan teruntuk sang komposer nan paling dinanti, Yanni.

Musik seketika menghentak di menit pertama, kami terkesiap, sebuah 'Intro' dimainkan dalam irama cepat dan membakar semangat. Tiupan trumpet berkelindan bersama seksi gesek. Sementara keyboard membangun atsmosfer lagu pembuka, seksi ritmik, bass dan drum menabuh genderang. Kami kian berdebar.

Hanya beberapa menit berselang, seorang pria mengenakan pakaian dominan berwarna putih muncul dari belakang panggung. Kumis tebalnya nan ikonik, sudah barang tentu dikenal, ia Yanni, sang penyihir yang kami nanti.

Yanni berlari, setengah meloncat, tak kuasa menahan girang di hadapan ribuan penonton yang menantinya.

Sinyum simpul ia lemparkan, matanya menengadah bersama telunjuk yang mengarah ke segala penjuru arena. Ia tahu betul menghargai kami yang menanti.

Lentik jari Yanni dengan cepat menyisir tuts demi tuts keyboardnya, bak Midas si tangan emas, nada-nada indah ia telurkan, saling bersahut dengan 11 musisi lainnya.

Looping full orkes memagari set mini orkestra yang dibawakan Yanni, tabuh meriah mengakhiri intro pembuka yang dibawakan sekitar satu setengah menit, disambut tepuk tangan yang begitu hangat dari ribuan penonton.

Kami terkesima, sadar deretan musisi kelas wahid menunjukkan kelas mereka.

Pesta baru dimulai, Yanni melanjutkan rentet repertoarnya malam itu dengan nomor 'For All Seasons' dan 'Keys to Imagination'.

Bak ingin menunjukkan betapa khatam nya penguasaan instrumen masing-masing musisi yang ia bawa, Yanni mempersilahkan satu per satu musisi pengiringnya unjuk kebolehan. Hal yang sama akan ditunjukkan nyaris sepanjang jalannya konser.

Samvel Yervinyan, salah satu violinist terbaik di dunia menyeruak dengan sayatan violinnya. Sang virtuoso memainkan nada-nada tinggi nan melengking dalam tempo cepat, tanpa cela sama sekali. Jalinan nada yang ia mainkan begitu menyayat, menikam sanubari kami.

Disambut dengan nada-nada magis dari tuts keyboard Ming Freeman, yang membuat suasana di pelataran Candi Prambanan kian sakral.

Tak cukup Samvel dan Ming, Jason Carder turut memekikkan trumpet bak lengkingan sangkakala dalam balutan nada-nada yang terdengar begitu flamboyan.

Ketiganya, adalah virtuoso di kelasnya masing-masing, pun seluruh musisi yang diboyong Yanni malam itu.

Bak ingin menunjukkan tak sembarang musisi yang dapat ikut serta bersama rombongan 'sirkusnya' yang spektakuler, di hadapan penonton Prambanan Jazz 2019, Yanni menampilkan atlet akrobat terbaik di jagat musik dunia.

Setelah ketiga nomor pembuka, Yanni menyapa Yogyakarta dengan hangat, ''Halo Jogja, apa kabar?'' sapa Yanni menyambut para penggemarnya.

''Malam ini begitu indah, dan istimewa dalam sejarah hidup saya. Sebab saya bisa bermain di Candi Prambanan nan menakjubkan,'' ujar Yanni.

(Prambanan Jazz Official)
(Prambanan Jazz Official)

Tak banyak basa-basi, Yanni kembali meneruskan repertoarnya. Selanjutnya, sebuah nomor berjudul 'Felitsa', lagu yang ditulis Yanni sebagai ungkapan cinta pada ibunya.

Di nomor ini, pemain violin alto, Lindsay Deutsch mengguratkan nada-nada sendu, bak mengguratkan kerinduan dan cinta yang tulus pada seorang ibu.

Diiringi tuts piano Yanni nan magis, untaian nada violin Lindsay menyelipkan 'suara wanita' dalam bangunan lagu yang disusun Yanni.

(Prambanan Jazz Official)
(Prambanan Jazz Official)

Setelahnya nomor demi nomor dibawakan. Yanni menyuguhkan repertoar bertempo cepat yang sama baiknya dengan repertoar bertempo lambat.

Semuanya disusun dalam orkestrasi brilian, dan diinterpretasikan di atas panggung dengan begitu rapi.

Komposisinya nan megah, mengadaptasi begitu banyak unsur kebudayaan dunia.

Seperti pada nomor, 'Nightingale' yang menggambarkan kekaguman Yanni pada kebudayaan China.

Di nomor ini, Yanni berduet bersama seorang soprano wanita, Lauren Jelencovich, keduanya memainkan alunan nada khas China nan purba.

Suara Lauren yang begitu tinggi dan melengking, mengadaptasi kicau burung di pepohonan.

Ia bernyanyi, menggapai nada tertinggi, tak meleset sedikit pun, dan mengundang decak kagum ribuan penonton yang memadati arena Special Show, Prambanan Jazz 2019.

Total sekitar 23 lagu dibawakan Yanni selama dua jam lamanya. Lagu-lagu terbaik dari puluhan tahun karir bermusiknya sejak medio 70-an, dibawakan komposer berusia 64 tahun tersebut. Termasuk komposisi Yanni nan paling ikonik dan fenomenal, 'Santorini' yang membahana dan membuat langit Prambanan bergetar di akhir sesi konser.

Sebelum akhirnya ditutup dengan empat encore, termasuk 'One Man's Dream' dan 'The Storm' yang menuntaskan penampilannya dengan begitu istimewa.

Seperti halnya 12 musisi virtuoso yang ia boyong, seperti itu pula Yanni, ia tak hanya lihai membangun komposisi megah dengan tingkat kesulitan nan rumit, namun juga begitu cakap memainkan instrumen bak seorang penyihir.

Dan Prambanan Jazz 2019, menjadi saksi betapa magisnya sihir Yanni malam itu.

"Mimpi saya akhirnya terwujud bisa bermain di Prambanan. Saya memang pernah bermimpi untuk bisa tampil di Indonesia,'' pungkas Yanni.

Prambanan Jazz 2019 masih menyisakan hari ketiga, Minggu (7/7). Anggun dan The Brian Mcknight 4 didapuk sebagai headliner utama penutup gelaran akbar tahunan tersebut. Tak kalah istimewa, deretan musisi Tanah Air juga siap menghibur penonton Prambanan Jazz 2019 dari Andien, Ari Lasso, Glenn Fredly, Bali Lounge hingga Tulus.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS