“Wah, aura Mas Wapres ke-Kuansing Agustus mendatang makin terasa. Jangan lupa mampir nonton Pacu Jalur, Mas,” tulis seorang warganet.
“Menyalalah Mas, sekalian promosiin kopi Kuansing dong,” sahut akun lainnya.
Namun tidak semua komentar bernada positif. Ada pula sejumlah warganet yang justru mengkritik gaya Gibran berjoget di video tersebut.
Menurut mereka, unggahan itu tidak pantas dilakukan oleh seorang pejabat negara sekaliber Wakil Presiden.
“Gilaaaa, kualitas wapres sekelas Cimoy Tiktokers. Kocak emang ini negara,” tulis seorang warganet dengan nada sinis.

“Geli banget lihat konten wapres. Nggak berbobot,” sindir akun lainnya.
“Malu sendiri aku nontonnya. Seorang orang nomor dua di Indonesia kok bikin postingan kayak begini,” tambah komentar lain yang ikut menyoroti.
Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, fenomena Pacu Jalur memang sedang naik daun di dunia digital.
Tarian yang dilakukan anak-anak di ujung sampan tersebut sudah menarik perhatian berbagai influencer hingga klub olahraga Internasional, yang ikut-ikutan menirukan gerakannya.
Tradisi Pacu Jalur sendiri merupakan warisan budaya masyarakat Riau yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.
Lomba dayung ini biasanya digelar setiap bulan Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.
Para peserta akan mendayung perahu panjang yang dihias indah, dengan seorang anak kecil yang menari di ujung perahu untuk menyemangati para pendayung.
Kini, dengan viralnya tarian Pacu Jalur di platform media sosial, tradisi ini kembali mendapatkan sorotan global.
Dan langkah Gibran untuk ikut mempopulerkannya, meskipun menuai perdebatan, menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya Indonesia di era digital.