Suara.com - Sederet figur publik mengaku mendapatkan teror, salah satunya Yama Carlos yang menceritakan kronologinya melalui Instagram.
Curhatan pertama dibagikan Yama Carlos pada Senin, 29 Desember 2025.
"Selamat datang di suatu negara yang katanya negara demokrasi," tulis Yama Carlos sebagai caption unggahannya.
Dalam unggahannya, Yama Carlos mengaku sudah men-take down salah satu kontennya.
Yama Carlos tak menjelaskan konten yang dimaksud. Namun Yama menampilkan cuplikan ia sedang memegang dot dengan kondisi sudut bibirnya dipenuhi air liur.
"Karena saya posting video itu, saya kena teror. Padahal di video itu, saya tidak menyebutkan nama siapa pun," kata Yama Carlos.
Teror juga didapatkan teman berserta ibu teman Yama Carlos dengan cara nomor ponselnya di-hack.
Untuk mendapatkan nomornya kembali, sang rekan harus memastikan Yama Carlos menghapus 12 konten.
Baca Juga: Dari Rifky Balweel hingga Asri Welas, Deretan Bintang Meriahkan Film The Hostages Hero
"Video sudah saya take down dan langsung nomor ibunya dikembalikan saat itu juga," tutur Yama Carlos.
Teror berlanjut ke rumah Yama Carlos berupa kiriman barang COD dari akun fiktif mengatasnamakan dirinya dan sang istri.
Hingga video dibuat, teror kiriman barang COD masih diterima Yama Carlos dengan nilai yang tidak sedikit.
Bukti chat dengan banyak kurir selanjutnya ditampilkan Yama Carlos, ada yang bernilai ratusan ribu sampai jutaan rupiah.
Teror yang tak kunjung berhenti dan merugikan banyak pihak membuat Yama Carlos berniat membawa masalah ini ke ranah hukum.
"Ya udahlah, kalau kalian memang tidak punya backing-an, posisi kalian tidak kuat, posting aja yang lucu-lucu deh. Enggak perlu nyenggol siapa pun," ucap Yama Carlos.
Pada Selasa, 30 Desember 2025, Yama Carlos kembali mengunggah video yang memperlihatkan chat teror kepada dirinya melalui WhatsApp.
Isi chat tersebut cukup singkat, hanya desakan untuk menghapus konten-konten yang dianggap menyinggung.
Melalui pengalamannya, Yama Carlos bermaksud mengingatkan warganet untuk lebih berhati-hati dalam bermain media sosial.
"Bentuk ekspresi yang namanya impersonate, satir, sarkas, atau parodi di suatu negara, itu kayaknya enggak berlaku lagi deh," ujar Yama Carlos.
"Itu bisa menyinggung beberapa pihak meskipun si pembuat impersonate tidak menyebutkan nama siapa pun," tambahnya.
Lebih lanjut, Yama Carlos mempertanyakan kebebasan ekspresi yang belakangan ini tampaknya semakin dibatasi.
"Selama kita tidak melakukan tindakan kriminal atau merugikan orang lain atau merusak tempat umum atau yang semacam itulah, harusnya kita merasa nyaman, aman, bebas untuk melakukan apa pun," imbuhnya lagi.
"Tapi ternyata tidak loh faktanya. Di suatu negara ya. Itu sudah saya rasakan. Lain kali kalau mau impersonate, kalau bisa izin dulu sama yang bersangkutan. Lucu kan," tuturnya.
Kontributor : Neressa Prahastiwi