Pandji Singgung Wajah Ngantuk Gibran, Tompi Jelaskan Soal Ptosis: Bukan Bahan Lelucon!

Dinda Rachmawati Suara.Com
Kamis, 08 Januari 2026 | 15:10 WIB
Pandji Singgung Wajah Ngantuk Gibran, Tompi Jelaskan Soal Ptosis: Bukan Bahan Lelucon!
Pandji Singgung “Wajah Ngantuk” Gibran, Tompi Jelaskan Soal Ptosis: Bukan Bahan Lelucon! (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
  • Pandji Pragiwaksono melawak soal fisik pemimpin di Netflix; Gibran disebut "ngantuk" dalam materi stand-up.
  • Dokter Tompi merespons kritik soal lelucon fisik, menjelaskan bahwa "ngantuk" mengacu pada kondisi medis ptosis.
  • Tompi mengajak publik fokus kritik pada gagasan atau kebijakan, bukan fisik pemimpin yang tidak dapat mereka pilih.

Suara.com - Panggung stand-up comedy sering menjadi ruang refleksi sosial yang dibungkus humor. Itulah yang dilakukan Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan Mens Rea yang tayang di Netflix pada 27 Desember 2025. 

Dalam materi tersebut, Pandji mengangkat fenomena publik yang kerap menilai pemimpin dari tampilan fisik. Ia menyebut beberapa tokoh nasional dengan label yang akrab di telinga publik. 

“Ganjar ganteng, Anies manis, Prabowo gemoy,” ucapnya, sebelum kemudian menyinggung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan istilah “ngantuk”.

“Atau wakil presidennya, Gibran ngantuk ya. Salah nada, maaf. Gibran, ngantuk ya?,” kata Pandji yang diiringi riuh tawa dari penonton.

Potongan itulah yang kemudian memicu respons dari dr. Tompi. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, dokter spesialis bedah plastik tersebut tidak mempersoalkan kritik politik atau humor yang disampaikan Pandji, melainkan fokus pada bagian yang menyentuh kondisi fisik seseorang.

Dalam unggahannya, dr. Tompi menjelaskan bahwa ekspresi mata yang terlihat “mengantuk” bukanlah hal sederhana. Secara medis, kondisi itu dikenal sebagai ptosis, yakni turunnya kelopak mata yang bisa disebabkan oleh faktor bawaan sejak lahir, gangguan fungsi otot, atau kondisi medis tertentu.

“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” tulis dr. Tompi.

Ia menekankan bahwa banyak orang hidup dengan kondisi tersebut tanpa pernah memilihnya, sehingga menjadikannya sebagai bahan humor dinilai kurang tepat. 

Meski demikian, Tompi tetap mengakui bahwa satire dan humor merupakan bagian sah dari ruang publik.

Baca Juga: Materi Mens Rea Pandji & Realitas Kelas Menengah: Terbahak Sambil Tercekik

“Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” ungkapnya.

Lebih jauh, dr. Tompi mengajak masyarakat untuk membedakan antara mengkritik ide dan mengomentari fisik. Menurutnya, kualitas diskusi publik akan lebih sehat jika fokus pada gagasan, kebijakan, dan tindakan para pemimpin, bukan pada aspek tubuh yang berada di luar kendali individu.

“Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya. Karena martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline,” ucap dia.

Menariknya, dr. Tompi juga menyampaikan bahwa ia tetap menikmati pertunjukan Pandji secara keseluruhan. Ia bahkan menyebut banyak materi dalam Mens Rea yang menurutnya relevan dan tepat sasaran.

“Btw saya nonton shownya di Netflix, keren kok materinya. Banyak benarnya,” tulisnya.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi ptosis memang bisa dikoreksi melalui tindakan medis seperti operasi, tetapi keputusan itu sepenuhnya berada di tangan masing-masing pasien.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI