Suara.com - Prilly Latuconsina belum lama ini menggegerkan masyarakat Indonesia, terutama pengguna media sosial, ketika menyalakan badge #OpenToWork di LinkedIn.
Prilly mengaku ingin mencari pengalaman sebagai offline sales, bidang yang belum dikuasainya sebagai pekerja seni khususnya industri film.
Postingan Prilly tersebut menuai pro kontra. Ada yang menganggapnya pekerja keras, tetapi ada pula menudingnya tak peka kondisi sosial.
Prilly dianggap pekerja keras karena mau mencoba hal-hal baru di luar keahliannya selama ini.
Sedangkan tudingan tak peka kondisi sosial berkaitan dengan sulitnya mencari kerja dewasa ini, sementara Prilly langsung mendapatkan berbagai tawaran.
Selain itu, pilihan pertama Prilly sebagai sales offline sebuah brand pasta gigi dituding gimmick lantaran statusnya sebagai Brand Ambassador.
Postingan Prilly mengumumkan pekerjaan pertamanya setelah #OpenToWork itu pun kini telah dihapus.
Kendati begitu, Prilly Latuconsina rupanya tak berhenti 'mencari kerja' seperti tujuan awal yang ia sampaikan.
Pada Minggu, 1 Februari 2026, Prilly mengumumkan kolaborasinya dengan tim @waste4change.
"Terima kasih tim @waste4change untuk surat cinta dan lanyard-nya. Senang banget akhirnya bisa langsung ketemu dan saling menyapa," tulis Prilly sebagai caption.
Dalam 'surat cinta' tersebut, tim @waste4change mengungkap rasa terima kasih dan menanti kedatangan Prilly untuk kolaborasi.
Prilly memotret 'surat cinta' dari tim @waste4change serta lanyard yang diterimanya.
"Sampai ketemu di kolaborasi kita dalam waktu dekat ini ya! Semoga bisa berjalan lancar dan memberi manfaat buat lebih banyak orang," pungkasnya.
Sayangnya warganet masih mengomentari unggahan terbaru Prilly Latuconsina dengan komentar sinis.
"Cuci tangan pakai sabun, bukan pakai gimmick," sindir akun @hadihimaw***.