Suara.com - Tasya Kamila tengah menjadi sorotan publik terkait unggahannya soal laporan kontribusi sebagai alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP.
Sebelumnya persoalan beasiswa ini mencuat usai alumni LPDP, Dwi Sasetyaningtyas viral karena pernyataannya yang kontroversial.
Tasya memang sempat memposting beberapa kontribusinya bagi Indonesia sebagai alumni awardee LPDP di Instagram miliknya belum lama ini.
Namun, artis yang menamatkan S2 di Columbia University ini justru menuai kritik tajam terkait postingannya itu.
Salah satu netizen dengan nama akun @houseofvya menganggap kontribusi Tasya Kamila tak sebanding dengan dana beasiswa yang dikeluarkan oleh negara.
"Mba kok impact-nya enggak sebesar dana yang dikeluarkan yah? Ini lebih mirip prokeran BEM atau kantor, program CSR perusahaan, atau kegiatan ibu-ibu di lingkungan," tulis netizen tersebut di kolom komentar.
Komentar tersebut langsung dibalas oleh Tasya Kamila. Pertama-tama, istri Randi Bachtiar itu minta maaf karena belum bisa memenuhi ekspektasi semua orang.
"Huhu maaf ya aku belom bisa penuhin ekspektasi kamu sebagai penerima beasiswa. Alhamdulillah baik LPDP maupun orang-orang yang terdampak lewat berbagai gerakanku berkenan. Tapi aku sadar memang aku enggak bisa memenuhi ekspektasi dan menyenangkan hati semua orang," balas Tasya Kamila di kolom komentar pada 24 Februari 2026.
Mantan penyanyi cilik ini juga mengaku sedih karena salah satu kontribusinya yakni melakukan gerakan akar rumput (grassroot movement) untuk keberlanjutan melalui yayasan Green Movement Indonesia dibilang tak berdampak.
"Jujur aku sedih karena usahaku, gerakan akar rumput untuk lingkungan dibilang gak berdampak. Aku mempraktikkan keilmuan yang aku dapat di Columbia University, soal bagaimana kebijakan publik bisa efektif dijalankan melalui gerakan akar rumput dan bagaimana publik juga bisa mendorong kebijakan," kata Tasya Kamila.
"Kebetulan di tahun 2016, isu SDGs menjadi salah satu prioritas sehingga jurusan kuliahku menjadi salah satu yang diprioritaskan LPDP," ungkapnya.
Aktris berusia 33 tahun ini berpendapat kalau gerakan ini memang bisa dan harus dikerjakan oleh siapa saja agar tujuan lingkungan terwujud.
"Gerakan-gerakan ini memang bisa dan justru HARUS dikerjakan siapa saja, tapi tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah untuk mengerjakannya," tulis Tasya Kamila.
"Harus pula ada yang menjembatani antara policymaker dan publik agar pesan tersampaikan sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tujuan lingkungan terwujud," imbuhnya.
Tasya Kamila mengaku tidak bekerja sendirian. Dia berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian dan Lembaga terkait agar menciptakan dampak yang lebih besar.