Suara.com - Curhatan akun Threads akun @rd.nia menjadi viral setelah membeberkan betapa mahalnya biaya orang meninggal di kampungnya.
Dia mengaku tinggal di sebuah kampung di daerah Tangerang, Banten.
"Apa cuma di kampung Tangerang ya kalau meninggal dibikin susah?" tulisnya memulai curhannya pada 5 Maret 2026.
Dia menyebutkan beberap hal yang semuanya harus pakai uang untuk mengurus jenazah keluarganya yang meninggal.
Bukan hanya biaya pemakaman, bahkan biaya untuk orang yang menyalatkan jenazah.

"Nyolatin wajib amplop Rp50 ribu minimal 150 orang," ujanya.
Sebelum salat jenazah, harus bagi-bagi mi instan untuk semuanya.
Belum lagi biaya untuk kain kafan dan perlengkapan untuk jenazah.
Parahnya untuk hal tersebut ternyata ada calo yang mengambil keuntungan.
"Kain kafan dan perlengkapan sudah ada yang nyaloin, enggak boleh menolak walau mahal atau sudah ada stok kain," imbuhnya.
Bahkan mandikan jenazah juga ada biayanya sendiri. "Mandiin bayar Rp500 ribu," sebutnya.
Ditambah lagi, pihak keluarga juga harus membayar orang yang mengaji baik di rumah maupun di kuburan.
"Yang ngajiin bayar Rp100 per orang (di rumah sama kuburan beda amplop)," ucapnya.
Kemudian harus membagikan nasi kotak sampai tujuh hari meninggalnya anggota keluarganya.
"Bagi nasi harus sampai H+7 dengan 200 box (biasanya H+3, H+7 atau 40 harian)," katanya.
Mirisnya, jika pihak berduka tak punya uang makan disuruh untuk menggadaikan apa saja yang dimiliki almarhum.
"Enggak punya duit disuruh gadai sertifikat atau jual kendaraan almarhum," ujarnya.
Ternyata bukan hanya dirinya, ada netizen lain yang mengaku tinggal di Bogor yang punya tradisi seperti itu.
"Di Bogor tempat ibu aku dimakamkan, sama. Malah bikin susah orang yang lagi berduka," ucapnya meski tak menjelaskan detail seperti akun sebelumnya.
Fenomena itu tentu membuat miris netizen lain yang tak mengalaminya.
Sampai ada netizen yang minta orang itu mending pindah kampung karena dianggap toxic.
"Lingkungan toxic, pindah cepet pindah," komentar netizen.
Namun ada juga orang Tangerang lain yang beda nasib karena memang ada sumbangan seikhlasnya setiap bulan.
"Saya di kota Tangerang, Kampung Sangiang, tiap bulan kita diminta sumbangan perlek se iklasnya, fungsinya kalau ada yang meninggol buat diberi kepada keluarganya, sebesar Rp2.500.000, biaya pemakaman gratis, tradisi kasi amplop buat yang solatin isinya Rp15.000, kita cuma kasih buat petugas gali kubur, untuk acara 7, 40, 100 hari terserah kepada keluarga duka, mau diadain atau tidak. Semua baik-baik aja enggak ada yang dikucilkan," cerita netizen itu.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah