Suara.com - Nama Jiang Xueqin mendadak ramai dibicarakan setelah sejumlah prediksi geopolitik yang ia sampaikan pada Mei 2024 kembali viral di media sosial.
Sejarawan yang berbasis di Beijing itu sebelumnya membuat tiga prediksi kontroversial yang kala itu dianggap sulit dipercaya.
Dalam sebuah pidato, Jiang memprediksi bahwa Donald Trump akan kembali berkuasa di Amerika Serikat (AS).
Ia juga memprediksi bahwa AS suatu saat akan terlibat konflik dengan Iran.
Prediksi ketiga yang paling mengejutkan adalah kemungkinan Amerika Serikat kalah dalam perang tersebut.
Pernyataan tersebut sempat dianggap spekulatif ketika pertama kali disampaikan.
Namun hampir dua tahun kemudian, dua dari prediksi tersebut terlihat mulai mendekati kenyataan.
Kembalinya Trump ke Gedung Putih mengejutkan sebagian kalangan politik, sementara ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat.
Baca Juga: Viral Aksi eks Marinir AS Tolak Perang di Sidang, Diamankan Petugas sampai Tangannya Patah
Konfrontasi militer di berbagai wilayah Timur Tengah juga membuat pernyataan lama Jiang kembali dibicarakan.
Banyaknya prediksi Jiang yang terbukti, membuat sebagian pengguna media sosial menjulukinya sebagai "Nostradamus Tiongkok.”
Prediksi Jiang Xueqin Soal Perang AS-Iran
![Asap membubung di Teheran, Iran duga dari serangan rudal Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026). [X/Vahid Online]](https://media.arkadia.me/v2/articles/rizkautamii/lrA8pgmj9olIDNMxNe4jOButXXaU9Gn5.png)
Melalui kanal YouTube-nya baru-baru ini, Jiang merilis sebuah video berjudul “How Iran can CRIPPLE the West in One Move” (Bagaimana Iran dapat Melumpuhkan Barat dalam Satu Langkah).
Dalam video tersebut, Jiang membeberkan beberapa alasan mengapa Iran dapat dengan mudah melumpuhkan AS dalam perang yang sedang berlangsung.
Menurut Jiang, kondisi geografis Iran akan menjadi tantangan besar bagi pasukan Amerika.
“Karena di sana ada gunung, dan apa yang dapat Anda lakukan di gunung? Anda dapat menyembunyikan pangkalan roket, drone, rudal, dan itulah keseluruhan strategi ofensif Iran. Lalu apakah mungkin bagi mereka untuk bertahan dari serangan itu? jawabannya tidak,” kata Jiang.