Suara.com - Jagat media sosial belakangan ini dihebohkan oleh aksi kreatif sekaligus kontroversial dari seorang pengemudi ojek online (ojol).
Di tengah fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM), seorang mitra pengantar makanan ShopeeFood bernama Edy Uban menjadi sorotan setelah nekat menggunakan gas elpiji 3 kg sebagai bahan bakar sepeda motornya.
Langkah ekstrem ini diambil Edy sebagai solusi untuk menekan tingginya biaya operasional harian saat mengaspal.
Perbandingan efisiensinya pun tergolong sangat mengejutkan. Edy mengklaim satu tabung gas melon tersebut sanggup menempuh jarak hingga 260 kilometer, jauh lebih hemat jika dibandingkan dengan penggunaan BBM jenis Pertalite.
Melalui modifikasi mandiri pada sistem pembakaran motornya, Edy menggantikan peran tangki bensin dengan tabung gas sebagai sumber energi alternatif.
Fenomena ini pun memicu perdebatan hangat, terutama setelah sebuah video yang memperlihatkan sistem tersebut viral. Dalam video itu, sang pengemudi tampak bangga karena telah "putus hubungan" dengan SPBU.
"Masih enggak percaya kelen. Hah? Ini wak ini pakai tabung gas. Tabung gas bapaknya katanya takut meledak katanya. Takut meledak. Gimana? Kayak mana ceritanya? Kok bisa ada yang bilang takut meledak?" ucapnya dalam video tersebut, menantang keraguan netizen.
Edy berargumen bahwa risiko ledakan tidaklah seburuk yang dibayangkan orang awam selama sirkulasi udara terjaga.
Baca Juga: Rekonstruksi Pembunuhan Bos Elpiji: Dendam Utang Jadi Adegan Berdarah di Kebon Jeruk!
"Gas itu kalau di luar ruangan dia terurai. Kalau di dalam ruangan baru dia bisa meledak," jelasnya meyakinkan.
Untuk membuktikan ucapannya, ia juga menunjukkan instalasi selang yang terhubung langsung dari tabung gas menuju mesin motor.
"Nah, jadi orang pakai gas dia enggak ada pakai, sudah putus hubungan dengan SPBU. Ah enggak percaya kalian nih. Hah. Tengok selangnya itu ke mana. Selangnya ke bawah mesin itu. Hah. Pikir. Noko-noko kali. Salam satu aspal," tambah sang perekam video tersebut.
Meski menawarkan efisiensi tinggi, penggunaan gas elpiji sebagai bahan bakar kendaraan di jalan raya tetap menjadi isu sensitif.
Selain karena memerlukan modifikasi khusus yang belum terstandarisasi, tindakan ini menimbulkan kekhawatiran besar terkait aspek keamanan bagi pengendara maupun pengguna jalan lainnya.
Tanpa adanya pengawasan teknis dari pihak berwenang, inovasi mandiri seperti ini dianggap memiliki risiko kecelakaan yang cukup fatal.