- Film ini lahir dari passion dan rasa cinta ratusan kreator Indonesia untuk mengembalikan mimpi anak-anak negeri.
- Animator, VFX artist, voice actor, hingga body actor dari berbagai daerah terlibat, menjadikan proyek ini karya kolektif yang besar.
- Menggunakan CGI, VFX, dan teknologi XR mutakhir, Pelangi di Mars menjadi tonggak bersejarah dalam industri film nasional.
Suara.com - Setelah perjalanan panjang hampir enam tahun, film terbaru garapan Mahakarya Pictures bersama sutradara Upie Guava, "Pelangi di Mars", siap tayang di seluruh bioskop Indonesia pada Lebaran, 18 Maret 2026, mendatang.
Film bergenre sci-fi anak-anak ini lahir dari passion dan rasa cinta ratusan kreator Indonesia yang ingin mengembalikan mimpi anak-anak negeri.
Mulai dari animator, VFX artist, hingga tim produksi lintas daerah, semua terlibat dalam proyek besar yang disebut sebagai pencapaian bersejarah perfilman nasional.
Ratusan Kreator, Satu Visi
Produser Dendi Reynando menegaskan bahwa "Pelangi di Mars" bukan sekadar karya individu, melainkan hasil kerja kolektif.
Ratusan orang dari berbagai daerah di Indonesia menaruh hati mereka dalam proses produksi, dari desain 3D hingga efek visual kelas dunia.
“Film ini milik kita semua. Ada animator yang datang jauh-jauh hanya untuk berterima kasih karena karyanya bisa masuk ke layar lebar. Itu momen yang membuat saya sadar, 'Pelangi di Mars' lebih besar dari sekadar film,” ujar Dendi.
Standar Baru Perfilman Indonesia
Dengan penggunaan teknologi XR, CGI, dan VFX mutakhir, Pelangi di Mars digadang sebagai standar baru kemampuan filmmaking Indonesia.
Tak hanya menampilkan visual spektakuler, film ini juga memberi apresiasi pada semua pihak yang terlibat, termasuk voice actor dan body actor yang selama ini jarang mendapat sorotan.
Sutradara Upie Guava berharap film ini bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia.
“Saya ingin mereka tahu bahwa mimpi setinggi langit bukan hanya milik anak-anak luar negeri. Lewat Pelangi, anak pertama yang lahir di Mars, saya ingin tunjukkan bahwa anak Indonesia juga bisa jadi pahlawan dunia,” pungkas Upie.
Pelangi di Mars bukan sekadar hiburan, melainkan simbol ambisi besar untuk membangkitkan imajinasi generasi muda. Sebuah karya yang lahir dari dedikasi, cinta, dan mimpi ratusan kreator Indonesia.