Suara.com - Metode sleep training memakan korban. Bayi berusia empat bulan meninggal setelah dibiarkan dua jam menanis di kasur.
Kejadian ini memicu gelombang simpati sekaligus peringatan keras bagi para orangtua yang sering kali terpapar tren pola asuh dari media sosial.
Reaksi netizen pun beragam dan penuh emosi menanggapi kasus ini.
Salah satu komentar yang muncul menyatakan, "Kok tega banget gak kasian ya, kita dengar dia nangis bentar aja udah pengen ikutan nangis apa lagi sampe sengaja membiarkan anak sekecil itu nangis berjam-jam ya Allah sedihnya."
Komentar lain juga mengingatkan agar orangtua lebih bijak dalam mengikuti tren.
"4 bulan udah sleep training, kalau udah kayak gini terus gimana? Nyeselkan pasti ortunya. Tidak semua trend bisa diikuti ya gaes. Lebih bijak lagi ya," komentarnya.
Melansir sleepfoundation.org, secara medis sleep training adalah proses membantu bayi belajar tidur secara mandiri tanpa perlu ditenangkan oleh orangtua melalui ayunan atau pemberian makan.
Namun, para ahli menekankan bahwa usia adalah faktor krusial untuk menerapkan metode ini.
"Bayi belum siap untuk sleep training sampai mereka berusia 4 hingga 6 bulan," keterangan dalam website tersebut.
Sebelum usia tersebut, bayi belum mengembangkan ritme sirkadian yang membantu mereka tidur sepanjang malam.
Kasus kematian pada usia 4 bulan menunjukkan risiko yang sangat tinggi jika kesiapan fisik dan emosional bayi diabaikan.
Sementara itu, terdapat berbagai metode sleep training, mulai dari yang keras hingga yang lembut.
Metode Cry It Out (CIO), misalnya, mengharuskan orangtua membiarkan bayi menangis hingga tertidur sendiri tanpa respons.
Banyak orangtua merasa tidak nyaman dengan metode ini karena khawatir akan meningkatkan tingkat stres bayi atau menyebabkan trauma.
Sebaliknya, ada metode yang lebih lembut seperti Pick Up/Put Down, di mana orangtua tetap memberikan kenyamanan fisik saat bayi menangis.
Bagi orangtua yang merasa tidak cocok dengan tekanan sleep training konvensional, tersedia alternatif lain yang lebih empatis.
Metode "responsive parenting" yang fokus pada kebutuhan anak dan merespons mereka dengan kasih sayang kini semakin banyak diminati.
Selain itu, teknik "co-sleeping" atau tidur bersama anak dipercaya dapat meningkatkan keintiman dan kepercayaan antara orang tua dan bayi.
Memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan unik sangatlah penting, karena jika anak menangis saat ditinggal, itu bisa jadi tanda bahwa mereka masih sangat membutuhkan kehadiran orang tua.
Keselamatan anak harus selalu menjadi prioritas utama di atas keinginan untuk mengikuti tren.
Sangat disarankan bagi orangtua untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli parenting sebelum memulai program pelatihan tidur apa pun.
Keberhasilan dalam pola asuh tidak diukur dari seberapa cepat bayi bisa tidur sendiri, melainkan dari kesejahteraan fisik dan emosional sang buah hati.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah