Berdasarkan penelusuran riwayat kesehatan, terungkap bahwa pasien telah aktif melakukan perilaku seksual berisiko selama dua tahun terakhir.
Pasien mengaku telah "hubungan lewat bubur" (istilah plesetan yang digunakan dokter untuk hubungan anal) secara aktif.
Meski sebelumnya sudah muncul benjolan, aktivitas tersebut tetap dipaksakan hingga akhirnya memicu pendarahan masif.
Kondisi pasien sangat kritis saat tiba di rumah sakit.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar Hemoglobin (HB) pasien berada di angka 5 koma sekian, sebuah angka yang sangat rendah dan mengancam nyawa.
Pasien tersebut harus segera mendapatkan transfusi darah dan menjalani operasi darurat karena kondisi ambeiennya bukan lagi sekadar kasus biasa, melainkan sudah dalam tahap yang sangat berbahaya.
Edukasi dan Batasan Tubuh
Hal yang lebih mengejutkan tim medis adalah pandangan pasien terhadap perilakunya sendiri.
Saat persiapan operasi, pasien sempat melontarkan pertanyaan yang menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap kesehatan reproduksi.
"Kok bisa kaya gini ya dok? Kan itu (HB lewat dhubur) wajar," cerita dokter itu menirukan sang pasien saat itu.
Pertanyaan ini dijawab oleh dokter dengan keprihatinan mendalam mengenai bagaimana nilai-nilai kesehatan kini mulai bergeser di kalangan remaja
Melalui unggahan tersebut, Dokter Rahmad Setia memberikan peringatan keras kepada masyarakat, terutama orangtua, untuk memberikan pendampingan dan edukasi seks yang benar kepada anak-anak usia remaja, agar tidak salah dalam memilih panutan.
Dia menekankan perilaku yang dianggap sebagai tren atau "wajar" oleh sebagian kelompok bisa menjadi awal dari masalah kesehatan yang fatal.
Dokter tersebut menegaskan dalam pesan penutupnya.
"Ini bukan untuk menakut-nakuti. Ini kisah nyata yang kami temui di IGD. Kadang yang dianggap "wajar" justru jadi awal dari masalah serius," kata Dokter Rahmad di caption.