- Lomba Final Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 menuai kritik karena ketidakkonsistenan penilaian dewan juri terhadap peserta.
- Juri memberikan skor berbeda untuk jawaban identik terkait mekanisme pemilihan anggota BPK yang diajukan kepada dua tim.
- Publik di media sosial menyoroti subjektivitas juri yang mengutamakan aspek artikulasi dibandingkan ketepatan substansi jawaban para peserta lomba.
Suara.com - Lomba Final Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 yang digagas oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tengah menjadi sorotan publik dan menuai banyak kritik dari netizen.
Ajang yang seharusnya menjadi sarana edukasi dan penguatan pemahaman kebangsaan itu justru viral di media sosial karena dianggap menimbulkan kontroversi dalam proses penilaian juri terhadap peserta lomba.
Kritik bermula dari sebuah potongan video yang memperlihatkan perdebatan antara peserta dan dewan juri.
Dalam momen tersebut, salah satu juri yakni Dyastasita WB yang menjabat sebagai Kepala Biro Pengkajian Konstitusi memberikan penilaian berbeda terhadap jawaban peserta meskipun jawaban yang diberikan dinilai sama.
Pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara berbunyi mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Salah satu tim, yaitu Tim C, menjawab bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan kemudian diresmikan oleh Presiden.
Jawaban tersebut kemudian dinilai salah oleh juri dan langsung diberikan pengurangan nilai sebesar minus 5.
Namun, kejadian menarik terjadi ketika pertanyaan yang sama diberikan kepada tim lain, yaitu Tim B. Tim B memberikan jawaban yang identik dengan Tim C.
Anehnya, pada kesempatan ini juri justru menyatakan jawaban tersebut benar dan memberikan nilai 10. Hal inilah yang kemudian memicu protes dari Tim C yang merasa terjadi ketidakkonsistenan dalam penilaian.
Meski peserta telah menyampaikan keberatan, pihak juri tetap pada keputusan awal. Dyastasita WB menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan dewan juri dan tidak dapat diganggu gugat.
“Keputusan saya kira di dewan juri,” ujarnya dalam video tersebut.
Situasi semakin menjadi perhatian ketika juri lainnya, Indri Wahyuni yang merupakan Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi, menambahkan komentar terkait alasan penilaian. Ia menyoroti aspek teknis seperti artikulasi peserta dalam menjawab pertanyaan.
Menurutnya, kejelasan dalam berbicara menjadi salah satu faktor penilaian penting dalam lomba tersebut.
Ia bahkan menyampaikan bahwa jika dewan juri tidak mendengar jawaban dengan jelas, maka hal itu dapat menjadi dasar pengurangan nilai.
“Peringatan dari awal ya. Artikulasi itu penting. Jadi biasakan menjawab dengan artikulasi yang jelas,” ujar Indri Wahyuni dalam video tersebut.
Pernyataan itu justru semakin memicu reaksi keras dari publik. Potongan video tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan menjadi bahan perdebatan di kalangan netizen.
Banyak yang menilai bahwa lomba cerdas cermat seharusnya menilai ketepatan jawaban, bukan aspek subjektif seperti cara berbicara, terlebih jika jawaban peserta sebenarnya sudah benar secara substansi.
Beragam komentar pedas pun muncul dari warganet. Sebagian menyebut bahwa keputusan juri tidak konsisten dan kurang adil.
Ada pula yang menyindir bahwa ajang yang seharusnya menguji kecerdasan justru terlihat tidak mencerminkan ketelitian dari pihak penilai.
“Parah sih, lomba cerdas cermat tapi jurinya nggak cermat,” tulis salah satu netizen di platform X.
"Typical boomer, dia yang budeg tapi orang lain yang disalahin artikulasinya. Pantes generasi kita melempem, yang kritis begini malah disalah salahin, harusnya kalo udah tau keputusan juri salah ya gapapa anulir aja, minta maaf, ganti pertanyaannya," imbuh lainnya.
"Udaaaah, nih ibunya nih yang ngurusin artikulasi. Padahal mah mereka aja yang gak denger," sahut lainnya.