- Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda tidak menggunakan anggaran Rp548 juta untuk biaya kesehatan dan tata rias pribadi.
- Kepala BPKAD Maluku Utara menyatakan dana tersebut bersifat antisipatif dan hingga kini belum terpakai sepeser pun.
- Kebijakan hemat anggaran ini mencerminkan prioritas Gubernur Sherly dalam mengalokasikan dana daerah untuk kebutuhan mendesak masyarakat umum.
Suara.com - Di tengah sorotan publik soal anggaran pemimpin daerah, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda justru menunjukkan aksi nyata dalam berhemat.
Meski dokumen APBD 2026 mengalokasikan dana Rp548 juta untuk biaya kesehatan dan tata rias sang gubernur, nyatanya uang tersebut masih utuh di kas daerah.
Anggaran yang sempat memicu perdebatan ini merinci dana sebesar Rp48 juta untuk kebutuhan tata rias dan Rp500 juta untuk medical check-up serta perawatan kesehatan pribadi.
Namun, alih-alih digunakan untuk kepentingan pribadi, dana tersebut sengaja tidak disentuh oleh istri mendiang Benny Laos ini.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Maluku Utara, Ahmad Purbaya, mengonfirmasi bahwa alokasi tersebut hanyalah bersifat cadangan atau antisipatif untuk kebutuhan protokoler kenegaraan.
"Anggaran kesehatan dan tata rias Gubernur bersifat antisipatif dan hingga saat ini belum terpakai sepeser pun," ungkap Ahmad Purbaya menanggapi isu yang beredar, sebagaimana dikutip dari unggahan akun @cerita.rempong, baru-baru ini.
Langkah ini sejalan dengan rekam jejak Sherly sejak menjabat sebagai gubernur perempuan pertama di Maluku Utara.
Sebelumnya, dia sempat viral karena memangkas usulan anggaran Rp1,7 miliar dari Dinas PU hanya untuk identifikasi jalan rusak. Dia memilih memanfaatkan kanal digital "Lapor Gub" untuk mendapatkan data langsung dari warga secara gratis.
Keputusan Sherly untuk tidak menggunakan fasilitas "glowing" dari negara ini memberikan sinyal positif mengenai prioritasnya.
Meski secara aturan diperbolehkan, sosok pemimpin ini tampak lebih memilih memastikan setiap rupiah di APBD fokus pada kebutuhan mendesak masyarakat daripada kenyamanan pribadi.
Kini, publik tinggal menunggu apakah efisiensi serupa akan terus konsisten dilakukan hingga akhir tahun anggaran.