- Yasinta Moiwen, warga Kabupaten Merauke, merasa kecewa karena wajah dan suaranya digunakan tanpa izin dalam film dokumenter Pesta Babi.
- Yasinta mengaku tidak pernah memberikan persetujuan atau diwawancarai secara khusus untuk proyek film yang membahas dampak proyek food estate tersebut.
- Pengakuan Yasinta yang viral pada 23 Mei 2026 menimbulkan kontroversi mengenai etika pembuat film serta dugaan eksploitasi isu masyarakat lokal.
Suara.com - Film dokumenter Pesta Babi kembali memunculkan kontroversi baru setelah salah satu tokoh perempuan adat Papua yang muncul dalam film tersebut, Yasinta Moiwen (61), bersuara.
Perempuan asal Distrik Ilwayab, Kampung Wogekel, Kabupaten Merauke, Papua Selatan ini mengaku kecewa berat karena merasa wajah dan suaranya dicatut tanpa izin maupun konfirmasi jelas untuk proyek film tersebut.
Kekecewaan ini terungkap melalui sebuah video pendek yang viral di platform X.
Yasinta menyatakan dirinya sama sekali tidak mengetahui bahwa rekaman dirinya akan dijadikan bagian dari film dokumenter tersebut hingga akhirnya diputar di Jayapura.
"Itu tanpa izin dari saya, tanpa pengetahuan dari saya. Saya kaget waktu di Jayapura mereka putar, nama saya ditampilkan di depan," ujar Yasinta dalam video wawancara yang diunggah akun X @neVerAl0nely___ pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Merasa hak dan identitasnya digunakan sepihak, Yasinta meluapkan kekesalannya dengan mempertanyakan etika para pembuat film.
"Apa saya ini boneka atau ukiran Asmat yang ditampilkan tanpa pengetahuan saya, tanpa izin dari saya? Jadi saya kecewa di situ sudah, sampai sekarang ini," lanjutnya dengan nada emosional.
Sebagai informasi, Pesta Babi merupakan film dokumenter investigatif yang mengangkat dampak sosial dan lingkungan dari proyek food estate serta pembukaan lahan skala besar di Papua Selatan
Judul film ini diambil dari tradisi adat "pesta babi" atau bakar batu, yang bagi masyarakat setempat merupakan simbol kedaulatan, kebersamaan, dan ketahanan pangan lokal yang kini terancam hilang.
Namun, Yasinta menegaskan bahwa dirinya tidak pernah diwawancarai secara khusus untuk film dokumenter tersebut. Dia bahkan bersumpah tidak mengetahui proses pembuatan film itu sejak awal.
"Saya tidak diwawancara, mereka yang buat. Saya tidak buat itu wawancara untuk Pesta Babi. Saya tidak tahu, saya sumpah demi Tuhan saya tidak tahu mereka buat itu film Pesta Babi," tegas perempuan kelahiran 1964 tersebut.
Lebih lanjut, Yasinta merasa keberadaannya hanya dimanfaatkan oleh pihak pembuat film atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mendampinginya.
Dia membeberkan bahwa dirinya kerap diajak bepergian ke luar Papua, namun tidak mendapatkan bantuan konkret untuk memperbaiki taraf hidupnya di kampung halaman.
"Saya pulang balik ke Jakarta berapa kali, enam kali tahun lalu. Ke Bogor, ke Makassar tiga kali, Jayapura dua kali. Tapi apa yang saya dapat? Cuma dapatnya capek. Tidak pernah dapat bantuan. Saya sudah sampaikan saya punya rumah tidak layak. Baru saja berapa Minggu yang lalu saya minta beli HP saja sampai hari ini (tidak dikasih)," keluh Yasinta.
Pengakuan Yasinta ini langsung membelah opini publik di media sosial. Sebagian warganet menyayangkan sikap pembuat dokumenter dan menuduh adanya eksploitasi isu lokal demi kepentingan sepihak.
Di sisi lain, kubu pendukung film berpendapat bahwa pernyataan Yasinta ini perlu disikapi secara hati-hati, mengingat tekanan politik dan upaya pembungkaman terhadap isu food estate di Papua Selatan kerap terjadi melalui berbagai cara.