- Pimpinan pondok pesantren di Kuningan menikahi santriwati berusia 19 tahun pada 9 Juni 2026 saat ulang tahunnya.
- Istri pertama secara sukarela merestui serta mendampingi suaminya menikahi istri kedua dalam resepsi pernikahan yang viral.
- Unggahan video tersebut memicu perdebatan warganet mengenai praktik poligami serta relasi kuasa di lingkungan lembaga pendidikan keagamaan.
Suara.com - Sebuah pesta pernikahan poligami di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mendadak viral di media sosial.
Pernikahan tersebut menjadi sorotan karena sang istri pertama secara sukarela "menghadiahkan" seorang santriwati berusia 19 tahun sebagai istri kedua untuk suaminya, tepat di hari ulang tahun sang suami yang ke-40.
Peristiwa tidak biasa ini diunggah oleh akun Instagram @infonesiaku.id pada Selasa, 9 Juni 2026.
Dalam dokumentasi pernikahan yang beredar, tampak mempelai pria yang merupakan pimpinan sebuah pondok pesantren di Kuningan diapit oleh kedua istrinya di atas pelaminan.
Kedua istri tersebut mengenakan busana pengantin putih dengan riasan serta mahkota yang serupa, menunjukkan kerukunan yang langka di dalam prosesi pernikahan poligami.
"Di usia 40 tahun, dia menikahi seorang santriwati berusia 19 tahun yang disebut merupakan alumni pesantrennya sendiri," demikian kutipan dari keterangan unggahan tersebut.
"Yang bikin netizen makin melongo, istri pertama justru hadir di pelaminan dan memberikan restu penuh."
Istri pertama tampak tegar dan mendampingi seluruh prosesi akad nikah hingga pesta resepsi selesai.
Dia bahkan ikut berfoto bersama di pelaminan sembari memegang microphone untuk memberikan sambutan restu atas pernikahan suaminya tersebut.
Unggahan pernikahan poligami ini langsung memicu perdebatan sengit di kolom komentar media sosial.
Sebagian kecil warganet memberikan pujian atas keberanian dan keteguhan iman sang istri pertama dalam berbagi cinta suami sesuai koridor yang mereka yakini.
"Alhamdulillah. Inilah contoh pimpinan ponpes yang menunjukkan bahwa Islam mengakomodir fitrahnya manusia melalui koridor yang tepat, bermartabat, dan bertanggung jawab," tulis akun @afi*** memberikan apresiasi.
Namun, mayoritas komentar justru dipenuhi dengan nada sindiran, skeptisisme, serta kekhawatiran mengenai relasi kuasa antara pimpinan pesantren dan santriwati mudanya.
"Enak ya buka ponpes. Dapat uang, dapat bini baru seleksi istri langsung," komentar akun @boi*** dengan nada menyindir.
Warganet lain juga mengkritik perbedaan usia yang cukup jauh serta tren pernikahan poligami di lingkungan lembaga keagamaan.
"Memang kalau bisnis agama udah paling legit," timpal akun @rad***.
"Yang normal-normal aja dong tolong bu, ibu, takut banget tiba-tiba jadi tren," imbuh akun @zil***.