- Penyanyi Idgitaf merilis album kedua bertajuk Berusaha di Bawah Hujan yang menceritakan fase baru percintaan.
- Idgitaf menjelaskan album tersebut di Konser Cherrypop pada Sabtu (22/8) sebagai simbol proses membuka hati kembali.
- Hasil karya ini menggambarkan keputusan seseorang untuk tetap setia mendampingi meski belum sembuh dari luka lama.
Suara.com - Penyanyi Brigita Meliala atau dikenal Idgitaf memberikan warna baru dalam album keduanya bertajuk Berusaha di Bawah Hujan.
Album ini merupakan bentuk manifestasi Idgitaf tentang fase baru kehidupan percintaan pasca penyembuhan diri dan pergumulan internal masa lalu.
Di album ini, Idgitaf memakai perumpamaan 'Hujan' sebagai simbol keresahannya. Dalam lagu "Sedia Aku Sebelum Hujan", misalnya, Idgitaf menceritakan tentang kesediaan 'Aku' mendampingi 'Sebelum Hujan' tiba.
Ada keinginan sosok 'Aku' untuk hadir lebih dulu, bahkan sebelum orang yang dicinta meminta ditemani.
Walaupun terdengar romantik, kerelaan 'Aku' untuk hadir itu tidak datang sendirinya. Sosok 'Aku' memiliki kesadaran penuh untuk menambatkan hati sampai rela menemani sebelum diminta.
"Aku nggak mau neko-neko dan nggak suka di hubungan yang nggak jelas. Jadi, aku selalu meyakinkan diri aku kalau aku bersama orang-orang yang tepat," katanya saat ditemui Suara.com di Konser Cherrypop, Sabtu (22/8).
Pada saat suasana akan berubah karena hilal 'Hujan' sudah terlihat, sosok 'Aku' masih meyakini adanya harapan yang kemudian dituangkan dalam lagu "Masih Ada Cahaya".
Alih-alih berusaha menghibur dan menawarkan jalan keluar, 'Aku' di lagu ini mengingatkan bahwa harapan selalu punya cara untuk tetap tinggal.
"Asalkan dia punya self awareness yang cukup tinggi setelah bersama kita dengan apa yang terjadi di masa lalunya, bukan berarti juga harus terjadi juga di masa depannya. Kalau dia punya kesadaran itu, seharusnya semua bisa dibicarakan dan dikondisikan," ujarnya.
Album ini ditutup dengan lagu "Berusaha di Bawah Hujan". Lagu ini menjadi keputusan final 'Aku' untuk tetap tinggal dan bersetia saat 'Hujan' ada di depan mata.
"Aku menemukan diriku di album ini kalau aku ternyata punya tangki cinta yang besar untuk orang yang aku sayang dan aku bisa rela melakukan apapun demi hubungan itu tetap terjadi dan terus berjalan sehat," katanya.
Album kedua ini merangkum lika-liku proses membuka hati kembali pasca penyembuhan diri di album pertama.
Walaupun belum sembuh sepenuhnya dari luka lama, sosok 'Aku' mau untuk belajar mencintai dan membuka hati kembali.
"Tapi, kalau takdirnya tidak membuat kita bersama, pun itu adalah resiko yang aku pilih. Jadi, aku akan berusaha di bawah hujan gempuran itu," tuturnya.
Terlepas dari hasilnya, belajar mencintai dan membuka hati kembali adalah bagian dari proses pendewasaan diri.
"Tapi, ini juga pasti ada umurnya. Jadi, balik lagi pendewasaan itu aku yang hadapi dan apapun kesalahanku, itu aku yang tanggung jawab dan aku yakin aku nggak bersama orang yang salah," pungkasnya.
Lewat album ini, Idgitaf seolah mengisyarakat keresahannya bahwa rasa takut kehilangan ikut tumbuh seiring berkembangnya perasaan-perasaan memiliki.