SUARA GARUT - Alat sadap yang berasal dari Israel, Pegasus disebut sudah masuk ke Indonesia. Bahkan sudah digunakan untuk mengintai sejumlah tokoh politik di Indonesia.
Penelusuran keberadaan alat sadap Pegasus dilakukan IndonesiaLeaks untuk mengetahui penggunaan teknologi dari Israel itu.
Pegasus bisa mengambil data-data yang berasal dari HP seseorang. Bahkan kamera dan alat perekam bisa otomatis terhubung.
Sumber IndonesiaLeaks mencoba mempraktikkan bagaimana alat surveillance dan alat sadap bekerja. Pengusaha itu mengeluarkan laptop kemudian membuka sebuah aplikasi. Dalam aplikasi tertera berbagai macam tools sebagai jalur untuk memilih serangan agar dapat dikirim melalui sosial media, link, foto, video, hingga nomor telepon.
Ia kemudian mencontohkan nomor telepon yang disusupi. Nomor itu dimasukkan ke dalam aplikasi. Setelah itu keluar berbagai macam data yang dapat diunduh. Salah satunya lokasi, telepon, camera, dan video.
"Jadi semua isi perangkat target dapat diambil," ujar sumber Indonesia Leaks saat ditemui pada 4 November 2022 lalu.
Ia juga memperlihatkan sebuah foto dirinya sedang praktik penyadapan dari seorang rekanan pengusaha lain. Foto itu menunjukkan seseorang sedang berada di depan layar komputer jinjing yang dipakai.
"Pakai alat NSO ada trainingnya. Satu minggu itu bisa, nggak perlu memasukkan coding. Tinggal memasukkan nomor kontak, tinggal click," ujarnya tertawa.
Menurutnya, alat pegasus ada yang terbatas dan tidak. Untuk yang terbatas, hanya bisa dipakai sebanyak 7-20 target user. "Jadi satu target satu user," ucapnya.
Baca Juga: Jokowi Sudah Minta Mahfud MD Tangani Masalah Utang Jusuf Hamka Sejak 2022
Tak cukup hanya menggunakan alat pegasus. Jika sudah membeli, maka pihak pengguna harus perbarui perangkat lunaknya. Proses itu dilakukan setahun sekali.
Biaya yang dikeluarkan untuk memerbaruinya butuh biaya yang tak sedikit, bisa sampai Rp 100 miliar. Namun jika tidak ada pembaruan, alat tidak akan bisa digunakan kembali. Lantaran itu pula, target yang disasar merupakan sosok highprofile.
"Barang itu mahal. Kalau targetnya cuma mahasiswa, aktivis, serangannya nggak perlu Pegasus. Dengan cara-cara biasa di internet juga banyak," ujarnya.
Menurutnya, alat Pegasus seharusnya digunakan untuk pertahanan negara dari ancaman atau serangan pihak luar. Bukan untuk memata-matai masyarakat maupun tokoh politik di Indonesia.
Namun kenyataannya, Pegasus kerap disalahgunakan tidak sesuai fungsinya. Sehingga, praktiknya cenderung dilakukan serampangan bahkan menimbulkan abuse terhadap target.
Kenyataan itu yang kemudian membuat Pemerintah Amerika Serikat melakukan moratorium penggunaan Pegasus pada 2018 di negeri Paman Sam itu. Seluruh alat NSO Group maupun perusahaan lain yang memproduksi alat zero click dilarang dijualbelikan.
Meski ada moratorium, serangan abuse masih terjadi. Menurut sumber IndonesiaLeaks, di Indonesia diduga ada dua tokoh yang disebut-sebut menjadi target abuse serangan pegasus, yakni Prabowo Subianto dan Airlangga Hartarto.
"Itu kan harusnya nggak boleh, kalau sadapkan harus law enforcement," tuturnya.
Law enforcement merujuk pada tindakan hukum legal yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pada pasal 40 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 UU Telekomunikasi disebutkan, setiap manusia dilarang keras melakukan aktivitas penyadapan yang kemudian disalurkan dalam bentuk apapun.
Larangan abuse dan penyadapan juga diatur dalam Undang-undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). Bahkan, regulasi tersebut menekankan pihak yang boleh melakukan penyadapan dalam rangka penegakan hukum.
Tim kemudian mencoba melakukan konfirmasi kepada juru bicara Airlangga Hartarto, Alia Karenina. Namun, ia mengaku tidak mengetahui handphone yang menjadi target, sebab telepon yang dipakai Airlangga banyak.
"Kami tidak tahu HP yang mana yang kena. Kami belum melakukan pemeriksaan," katanya kepada IndonesiaLeaks.
Penggunaan Pegasus sebenarnya bukan hal yang baru di Indonesia, dua informan IndonesiaLeaks mengungkap indikasi penggunaan alat sadap dalam kontestasi politik nasional pada Pemilu 2019 silam.
Informan tersebut bahkan merujuk pada nama Sakti Wahyu Trenggono yang disebut memiliki peran sentral dalam menggunakan alat sadap pada saat gelaran politik lima tahunan itu.
Sebelum menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan, sosok Sakti Wahyu Trenggono tercatat sebagai Bendahara Tim Kampanye Nasional atau TKN Jokowi-Ma'ruf Amin. Pengusaha di bidang telekomunikasi dan kerap dijuluki "Raja Menara" ini diduga memiliki ruangan khusus di rumahnya, ada yang menyebut ruangan bawah tanah, untuk memenangkan Jokowi dalam kontestasi Pilpres 2024.
Bahkan menurut dua sumber yang tahu keberadaan lokasi ruangan itu menyebut secara spesifik, jika alat yang digunakan berasal dari Israel. Bahkan seorang mantan pejabat pada periode pertama Jokowi mendapat informasi, jika alat tersebut adalah Pegasus. Alat yang dimiliki Trenggono itu diduga bisa masuk ke grup-grup WhatsApp lawan politik Jokowi.
Saat diminta konfirmasi mengenai informasi tersebut, Trenggono memilih menolak berkomentar tim Indonesia Leaks usai memberikan keterangan resmi terkait kebijakan ekspor pasir laut di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Rabu (31/5/2023).
Bahkan, sejumlah penjaga dan petugas keamanan Trenggono menghalang-halangi hingga main fisik saat tim Indonesia Leaks ingin memastikan kabar kepemilikan alat sadap itu.
Meski begitu, tidak diketahui dengan pasti asal-usul alat yang ditengarai dimiliki oleh Trenggono bisa sampai ke Indonesia. Pasalnya, dalam beberapa kali pengecekan data-data importasi seperti nama barang hingga perusahaan pengimpor barang tidak tercatat di otoritas kepabeanan. (*)
Editor: Firman