Suara.com - Data penelitian Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat (AS), melaporkan bahwa pelajar merupakan pengguna terbanyak rokok elektrik yaitu sebanyak 4,9 sampai 9,7 persen dari total perokok. Sementara perokok elektrik di atas 18 tahun hanya 0,6 persen dari populasi itu.
Tak hanya itu, CDC juga mengungkapkan bahwa jumlah perokok elektrik usia SMA di AS pada 2012 naik hampir dua kali lipat dari tahun 2011.
Beranjak dari data tersebut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) khawatir penggunaan rokok elektrik di Indonesia justru memicu munculnya perokok baru
"Kami khawatir rokok elektrik dapat meningkatkan daya tarik kepada perokok baru dari kalangan pemuda, sementara yang ingin berhenti justru semakin giat merokok," jelas Lela Amelia Kepala Sub Bidang Pengawasan Rokok BPOM RI pada Diskusi Dampak Rokok Elektrik yang digelar Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) di Jakarta, Selasa (3/3/2015).
Apalagi, tambah dia, pemasaran perangkat berbasis baterai dan alat pemanas untuk menguapkan berbagai zat cair secara bebas di internet akan membuat pengguna usia muda terus bertumbuh.
Rentannya usia muda menggunakan rokok elektrik, menurut Lela, juga dikhawatirkan menjadi pemicu penggunaan zat berbahaya lainnya.
Kekhawatiran ini didukung oleh laporan New England Journal of Medicine 2014 yang menyebutkan bahwa rokok elektrik diperkirakan menjadi gateway drugs. "Itu artinya pemakai rokok elektrik dapat menjadi adiksi serta berpotensi menggunakan obat lain seperti kokain, dan obat terlarang lain," imbuhnya.
Selain itu, Lela memaparkan rokok elektrik yang dioperasikan menggunakan daya tegangan tinggi akan menghasilkan konsentrasi karsinogen penyebab kanker yang jauh lebih tinggi dibandingkan rokok konvensional.
Beranjak dari kekhawatiran itulah, BPOM telah mengajukan draft kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk merumuskan aturan untuk melarang atau membatasi peredaran rokok elektrik di Indonesia.
"Pemerintah diharapkan menetapkan kebijakan untuk rokok elektronik dengan melarang promosi untuk minimalkan potensi risiko kesehatan dan melarang klaim rokok elektronik aman tanpa bukti yang cukup," pungkas Lela.