Ini Bahaya Polusi Udara dari PLTU Batubara

Ririn Indriani, Firsta Nodia

Kamis, 13 Agustus 2015 | 15:46 WIB
Ini Bahaya Polusi Udara dari PLTU Batubara
PLTU Taman Jeranjang

Suara.com - Indonesia memiliki puluhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara yang tersebar di seantero Indonesia. Pembakaran batubara untuk menghasilkan tenaga listrik ini melepaskan jutaan ton polusi setiap tahunnya.

Dari waktu ke waktu PLTU-PLTU tersebut mengotori udara dengan polutan beracun, termasuk merkuri, timbal, arsenik, kadmiun dan partikel halus yang telah menyusup ke dalam paru-paru masyarakat yang tinggal di sekitar PLTU Batubara tersebut. Akibatnya beragam masalah kesehatan mengintai masyarakat mulai dari peningkatan risiko kanker paru-paru, stroke, penyakit jantung, dan penyakit pernapasan.

Hal ini terungkap melalui penelitian yang dilakukan peneliti Universitas Harvard terkait dampak dari polusi udara yang dihasilkan PLTU Batubara di Indonesia terhadap kesehatan penduduk disekitarnya selama satu tahun terakhir.

Profesor Shannon Koplitz selaku peneliti utama menjelaskan bahwa PLTU batubara di Indonesia menyebabkan sekitar 6,500 jiwa kematian dini setiap tahun. Jumlah ini bisa naik hingga 15,700 jiwa per tahun jika pemerintah meneruskan peluncuran rencana ambisius lebih dari seratus pembangkit listrik tenaga batu bara yang baru.

“Emisi dari PLTU batubara itu membentuk partikel dan ozon yang merugikan kesehatan manusia,” ujar Shannon Koplitz melalui video conference dalam temu media yang dihelat Greenpeace Indonesia, di Jakarta, Rabu (12/8/2015).

Ia menambahkan bahwa saat polusi udara yang berupa partikel halus beracun terhirup, maka dengan mudah akan masuk ke paru-paru hingga menuju aliran darah sehingga mengakibatkan infeksi saluran pernapasan akut hingga kanker paru-paru.

Greenpeace Indonesia juga menampilkan beragam testimoni dari penduduk yang tinggal di sekitar PLTU Batubara yang menjadi sampel penelitian. Dampak dari polusi udara yang dihasilkan PLTU batubara salah satunya dirasakan oleh Rina Anjarwati, seorang bidan di desa Tubanan, Jepara Jawa Tengah. Sebagai seorang tenaga kesehatan di pedesaan tersebut, ia sering menemukan keluhan pada sistem pernapasan dari masyarakat setempat yang berobat.

"Keluhan sesak napas, batuk, dan pilek tidak pernah kenal musim. Hampir setiap hari ada pasien yang mengeluh di saluran pernapasannya. Biasanya paling sering anak usia dua bulan. Anak-anak daya tahan tubuh tidak seperti orang dewasa. Saya berpikir apakah karena berdekatan dengan PLTU tapi saya ga berani menyimpulkan," kata Rina.

Saking tebalnya debu yang dihasilkan dari PLTU Batubara Tanjung Jati B, warga desa Tubanan yang berdekatan dengan lokasi PLTU itu pun harus berkali-kali menyapu lantai rumahnya.

"Setiap hari ya harus berkali-kali bersihin rumah terus. Sehari bisa 3 kali, 4 kali karena debu dari PLTU itu masuk terus," cerita Ngatimah.

Ada pula warga yang harus pindah rumah karena anaknya terus mengalami sesak napas sejak tinggal di lokasi yang berdekatan dengan PLTU tersebut.

"Kata dokter, kalau lama-lama malah bahaya. Gimana caranya supaya anak sehat, kalau saya punya rumah di sini, dari pada anak saya enggak sehat, buat apa?" ujar Karsalim.

Ahli batubara dan polusi udara Greenpeace, Lauri Myllyvirta, mengatakan bahwa risiko penyakit yang mengintai masyarakat di sekitar PLTU batubara bisa memicu kematian dini. Bahkan dampaknya juga turut dirasakan oleh negara tetangga dengan radius sekitar 1000-1500km seperti Malaysia dan Filipina.

"Misalnya saja kasus yang di China, dampaknya bisa dirasakan hingga ke Amerika Serikat. Tapi memang dampak terbesar akan dialami oleh penduduk yang bermukim di sekitar PLTU. Ini harus mendapat perhatian pemerintah," ujar Lauri.

Temuan ini diluncurkan menyusul pengumuman baru oleh Presiden Jokowi untuk membangun tambahan 35GW pembangkit listrik baru, dimana sebanyak 22GW diantaranya akan datang dari pembangkit listrik batubara.

Greenpeace selaku organisasi nirlaba dunia yang bergerak di bidang lingkungan hidup berharap temuan ini bisa memberikan gambaran bagi pemerintah untuk menyetop pembangunan PLTU Batubara baru dan beralih ke pengembangan energi terbarukan seperti yang dilakukan negara lainnya dengan memanfaatkan tenaga angin dan matahari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

WHO: Polusi Dunia Memburuk 10 Tahun Terakhir Ini

WHO: Polusi Dunia Memburuk 10 Tahun Terakhir Ini

Health | Rabu, 03 Juni 2015 | 13:12 WIB

Paparan Polusi Udara Bisa Rusak Struktur Otak

Paparan Polusi Udara Bisa Rusak Struktur Otak

Health | Senin, 27 April 2015 | 19:26 WIB

Polusi Buruk, India Salahkan Gaya Hidup Rakyatnya

Polusi Buruk, India Salahkan Gaya Hidup Rakyatnya

News | Senin, 13 April 2015 | 12:40 WIB

Greenpeace Indonesia Kampanyekan Gerakan Antifesyen Beracun

Greenpeace Indonesia Kampanyekan Gerakan Antifesyen Beracun

Lifestyle | Minggu, 22 Maret 2015 | 14:07 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup

Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup

Health | Senin, 01 Juni 2026 | 14:13 WIB

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Health | Minggu, 31 Mei 2026 | 17:57 WIB

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:33 WIB

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:18 WIB

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:06 WIB

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:41 WIB

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:27 WIB

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:44 WIB

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB