Suara.com - Sudarwadi (59) baru kali ini memeriksakan kondisi kesehatannya. Padahal ia berprofesi sebagai supir angkutan umum selama 41 tahun.
Alasannya sederhana, ia tak pernah mengeluh sakit yang teramat mengganggu sehingga memilih untuk mengatasinya dengan obat-obatan warung.
"Biasa kalau sakit nggak macem-macem, paling pusing, pilek. Jadi nggak merasa perlu berobat ke dokter," ujarnya pada Suara.com usai menjalani pemeriksaan gratis yang diselenggarakan Dompet Dhuafa dan PTTEP di terminal Blok M, Jakarta, Selasa (2/2/2016).
Padahal setelah menjalani pemeriksaan kesehatan gratis, Sudarwadi diketahui memiliki tekanan darah tinggi. Kondisi ini tentu saja cukup berisiko untuk mengendarai angkutan umum yang membawa banyak penumpang.
"Setelah dicek kolestrol, asam urat normal, tapi tekanan darah memang agak tinggi. Berasa agak puyeng dari kemarin-kemarin. Jadi harus minum obat katanya," imbuhnya.
Begitu juga dengan Nurhadi (49). Selama 25 tahun menjalani profesi sebagai supir Metromini, ia tak pernah merasakan sakit yang macam-macam. Demam dan nyeri kepala, merupakan dua penyakit yang kerap dideritanya.
"Biasa sembuh beli obat di warung jadi nggak pernah ke dokter. Periksa kesehatan baru di sini aja," ungkapnya.
Tuntutan menyupir selama 12 jam sehari di jalanan Jakarta yang diselimuti macet membuat Sudarwadi dan para supir lainnya berisiko mengidap berbagai penyakit. Sayangnya kesadaran mereka untuk memeriksakan kesehatannya sangat rendah.
Padahal, keselamatan para penumpang berada di tangan mereka. Menanggapi hal ini, praktisi kesehatan sekaligus presenter dr Lula Kamal mengatakan bahwa sebaiknya pemeriksaan kesehatan secara gratis pada para supir angkutan umum lebih digalakkan. Terlebih banyak masyarakat yang menggantungkan pilihan mereka di layanan transportasi umum.
"Asam urat kambuh saat harus menyetir di Jakarta bisa kebayang nggak sakitnya gimana. Kalau supir sering diperiksa kesehatannya tentu bisa mencegah hal buruk akan terjadi pada dia dan penumpangnya," terangnya.