facebook

Ini yang Terjadi Bila Tubuh Kelebihan Vitamin

Ririn Indriani
Ini yang Terjadi Bila Tubuh Kelebihan Vitamin
Ilustrasi suplemen dan vitamin. (Shutterstock)

Kelebihan kadar vitamin dalam tubuh bisa menimbulkan efek toksik.

Suara.com - Vitamin merupakan nutrisi berupa substansi organik yang tersedia di dalam berbagai bahan makanan dan tersedia secara khusus dalam bentuk suplemen.

Vitamin sangat diperlukan oleh tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi metabolisme, namun tubuh hanya membutuhkan dalam jumlah yang cukup saja.

Kelebihan kadar vitamin dalam tubuh akan menimbulkan efek toksik. Meskipun hal ini jarang terjadi, namun kelebihan kadar vitamin dalam tubuh dapat menimbulkan efek buruk bagi kesehatan.

Apa itu hipervitaminosis?
Hipervitaminosis merupakan suatu istilah yang merujuk pada kadar abnormal vitamin yang tersimpan dalam tubuh hingga dapat menyebabkan keracunan. Kelompok vitamin juga mempengaruhi terjadinya hipervitaminosis.

Adalah vitamin larut lemak yang lebih sering menimbulkan efek hipervitaminosis, di antaranya vitamin A, D, E, dan K. Berbeda dengan vitamin larut air (vitamin B dan C) yang tidak terlalu lama tersimpan dalam tubuh, vitamin larut lemak dapat tersimpan di dalam lemak hingga dapat terjadi akumulasi.

Namun, vitamin larut air yang terlalu banyak juga dapat memberikan efek buruk bagi tubuh.

Mengapa hipervitaminosis bisa terjadi?
Vitamin dapat berasal bahan makanan dan suplemen vitamin, bahkan tubuh kita dapat membentuk sendiri seperti vitamin D dari sintesis elgocalciferol saat berjemur di bawah sinar matahari. Kelebihan

vitamin (hipervitaminosis) terjadi apabila tubuh kita mendapatkan vitamin dari beberapa sumber. Jika makanan sudah mengandung cukup vitamin, maka suplemen vitamin sudah tidak diperlukan lagi dan jika tetap dilakukan akan menimbulkan dampak berbahaya bagi tubuh.

Ciri kondisi hipervitaminosis adalah gangguan kesehatan yang diakibatkan dari mekanisme fisiologis tubuh dan reaksi biokimia vitamin.

Berikut gejala hipervitaminosis berdasarkan vitaminnya yang dihimpun oleh hellosehat.com:

1. Kelebihan vitamin A

Ilustrasi vitamin A. (Shutterstock)

Biasanya disebabkan konsumsi kadar vitamin A yang terlalu tinggi setiap hari dalam waktu yang lama. Dampak hipervitaminosis A dapat terjadi secara akut dan kronis akibat mekanisme fisiologis dan biokimia dalam tubuh yang menyimpan vitamin A.
 
Efek akut dari hipervitaminosis A akan terjadi apabila kadar vitamin A yang sudah tersimpan melebihi dari 25000 IU/kg. Sedangkan efek kronis akan muncul apabila konsumsi vitamin A mencapai atau melebihi 4000 IU/kg setiap hari dalam waktu 6 hingga 15 bulan.

Gejala kondisi akut kelebihan vitamin A berupa sakit kepala, pusing, mual, rasa sakit di perut, iritasi dan gangguan penglihatan. Sedangkan gejala kronis antara lain demam, mulut kering, nyeri pada tulang, anoreksia.

Dalam beberapa kasus, efek kronis hipervitaminosis A termasuk adanya tekanan cairan di dalam tulang sekitar otak (intrakranial), anemia, dan rendahnya kadar trombosit (trombositopenia). Jika mengalami kondisi hipervitaminosis A, segera hentikan konsumsi vitamin. Efek kronis terutama tekanan intrakarnial harus segera ditangani dengan obat diuretic dan mannitol.

2. Kelebihan vitamin B

Ilustrasi vitamin B. (Shutterstock)

Biasanya disebabkan karena asupan vitamin B dari suplemen, karena belum pernah dilaporkan hipervitaminosis B yang disebabkan dari konsumsi makanan. Penggunaan vitamin lebih dari 200 mikrogram per hari menyebabkan efek toksik dan jika konsumsi dilakukan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan penyakit saraf.

Pada umumnya hipervitaminosis B kompleks (vitamin B1, B2, B3, B5, B6, B7, B9 dan B12) menyebabkan perubahan pada kulit, mual, luka pada usus, liver berlemak, meningkatkan kadar gula dan asam urat dalam darah.  

3. Kelebihan vitamin C

Ilustrasi Vitamin C. (Shutterstock)

Kondisi ini disebabkan dari konsumsi vitamin C melebihi dosis 2000 mg per hari. Kelebihan dosis konsumsi biasanya disebabkan asupan vitamin C dari suplemen.

Gejala dari kelebihan vitamin C berupa diare, mual, sakit kepala, insomnia, serta efek yang paling parah adalah pembentukan batu ginjal. Pada umumnya gejala hipervitaminosis C diatasi dengan pengobatan yang sesuai dengan gejala yang dialami individu.

4. Kelebihan vitamin D

Ilustrasi vitamin D. (Shutterstock)

Biasanya disebabkan konsumsi suplemen vitamin D dan kalsium secara bersamaan. Kondisi hipervitaminosis D biasanya tidak menyebabkan gejala secara langsung, namun karena efek sekunder dari kelebihan kalsium dalam darah (hypercalcaemia), karena terlalu banyak kalsium yang diserap dengan adanya vitamin D dalam tubuh.

Batas konsumsi vitamin adalah sekitar 600 IU per hari. Efek akut dari vitamin D adalah sembelit, dehidrasi, hilangnya nafsu makan, kelelahan, pusing, tekanan darah tinggi, dan aritmia. Sedangkan efek kronis yang ditimbulkan adalah kerusakan pada ginjal, pengeroposan tulang, dan kalsifikasi (pengerasan) arteri dan dan jaringan lunak pada tubuh.

Untuk mengatasinya, segera hentikan asupan vitamin D, dan kurangi konsumsi dalam beberapa saat. Pengobatan dengan mengurangi kadar kalsium juga diperlukan agar kadar kalsium dalam tubuh kembali normal.

5. Kelebihan vitamin E

Ilustrasi vitamin E. (Shutterstock)

Vitamin E berasal dari berbagai bahan makanan namun kondisi kelebihan vitamin E hanya ditemukan pada orang yang mengkonsumsi suplemen vitamin E. Konsumsi vitamin E yang dianjurkan hanya sebesar 30 mg per hari namun efek hipervitaminosis E muncul apabila mengonsumsi vitamin E dengan dosis di atas 1gr per kg berat tubuh dalam satu hari.

Hipervitaminosis E menyebabkan perdarahan karena menghambat kerja vitamin K. Beberapa gejala yang mungkin terjadi adalah kelelahan, sakit kepala, dan masalah pada sistem pencernaan. Gejala ini dapat diatasi dengan menghentikan suplemen dan pengobatan sesuai gejala pada individu.

6. Kelebihan vitamin K

Ilustrasi vitamin K. (Shutterstock)

Meskipun vitamin K tersimpan di dalam lemak, gejala Hipervitaminosis K sangat jarang ditemukan. Batas asupan vitamin K adalah 500 mikrogram per hari. Melebihi batas dosis tersebut dapat menyebabkan rekasi alergi dan menyebabkan gangguan pada liver, namun hal ini sangat jarang.