Array

Mengenal Carbovore, Kondisi Kecanduan Karbohidrat

Jum'at, 21 Oktober 2016 | 07:14 WIB
Mengenal Carbovore, Kondisi Kecanduan Karbohidrat
Ilustrasi kecanduan makanan. (Shutterstock)

Suara.com - Indonesia kaya keragaman kuliner. Namun jika Anda perhatikan, sebagian besar menu makanan Indonesia menggunakan karbohidrat sebagai bahan utamanya. Sebut saja nasi, lontong, bubur, mie, hingga beragam aneka jajanan pasar.

Kebiasaan yang telah turun temurun ini, menurut Pakar gizi dr Grace Judio Kahl, Msc, dapat memicu kecanduan karbohidrat atau dalam istilah medis disebut carbovore. Salah satu contohnya banyak orang merasa belum kenyang jika tidak ada nasi dalam menu makanannya.

"Saat mengonsumsi karbohidrat maka otak memproduksi hormon serotonin yang memberikan perasaan menenangkan dan menyenangkan, dan juga meningkatkan dopamin yang memberikan efek kecanduan," ujarnya pada temu media 'Jakarta Food Editor's Club' di Jakarta, belum lama ini.

Pada orang yang tergolong carbovore, kata Grace, dopamin    tak lagi mudah diproduksi, sehingga seseorang akan terus-terusan mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, sampai membuatnya merasa puas.

"Semakin dia mengonsumsi makanan karbohidrat maka semakin rusaklah reseptor di otak yang memproduksi dopamin. Kalau orang normal makan dikit saja dopamin langsung diproduksi, tapi pada mereka yang tergolong carbovore, dopamin akan sulit diproduksi," imbuhnya.

Sayangnya kecanduan karbohidrat, kata dia, dapat memicu masalah lain, yakni obesitas, diabetes hingga peningkatan kolesterol jahat dalam tubuh.

"Kalau konsumsi gula atau tepung maka akan diubah menjadi gula darah. Kadar gula akan cepat naik dan cepat juga turunnya kalau kita mengonsumsi karbohidrat. Makanya setelah makan karbo, cepat kenyang tapi cepat juga laparnya," ujar Grace.

Cara menghentikan kecanduan karbohidrat, lanjut dia, bisa dilakukan dengan 'body scanning' atau refleksi diri, ketika menginginkan suatu makanan. Apakah makanan tersebut benar-benar dibutuhkan perut untuk mengatasi rasa lapar, atau hanya sekadar lapar mata.

"Latih tubuh untuk mengenali rasa kenyang dan lapar. Sebelum mengonsumsi makanan, coba tanya ke diri kita, apakah yang menginginkan otak, mata, hidung, mulut atau memang karena perut lapar. Indikator agar tak kecanduan adalah melihat kebutuhan perut," pungkas Grace.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI