Indeks Massa Tubuh Tidak Selalu Bisa Jadi Acuan Tanda Obesitas

Rabu, 29 Maret 2017 | 15:02 WIB
Indeks Massa Tubuh Tidak Selalu Bisa Jadi Acuan Tanda Obesitas
Ilustrasi obesitas. (Shutterstock)

Suara.com - Laporan baru menyatakan para peneliti dari University of Alberta mengatakan bahwa indeks massa tubuh atau BMI merupakan indikator yang buruk untuk mengukur kesehatan. Pasalnya, bisa jadi BMI malah menyebabkan dokter meresepkan pengobatan yang salah untuk pasien.

BMI pertama kali populer pada 1970-an sebagai cara menilai jumlah lemak tubuh. Ukuran BMI yang sehat biasanya diukur antara 18,5 hingga 24,9. Sementara BMI antara 25 hingga 29,9 merupakan pertanda kelebihan berat badan dan BMI di atas 30 dianggap sebagai kondisi obesitas.

Dr Arya Sharma, seorang peneliti obesitas di University of Alberta di Kanada, mengatakan kepada Live Science, seseorang dengan BMI di atas 30 dianggap obesitas oleh metrik, bisa jadi sebenarnya. Tekanan darah mereka normal, hati berfungsi dengan baik dan kadar kolesterol dalam batas normal.

Di sisi lain, beberapa orang dengan BMI di bawah 30 memiliki masalah kesehatan yang dapat memburuk jika mereka menurunkan berat badan.

The American Medical Association mengklasifikasikan obesitas sebagai suatu penyakit, tetapi ukuran seperti BMI bukanlah penyakit.

"BMI adalah ukuran pakaian, ini memberitahu saya seberapa besar Anda, BMI bukanlah kriteria yang baik untuk mendiagnosa penyakit" kata Dr. Sharma.

Dr Sharma juga mengatakan perlu adanya pergeseran dari diagnosis berbasis BMI obesitas kepada pendekatan yang lebih holistik seperti berbasis kesehatan.

Hal ini dapat juga melibatkan cek kesehatan fisik, seperti masalah diabetes, masalah kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan sosial juga kesehatan fungsional, termasuk kemampuan untuk kegiatan sehari-hari. Selain itu, Dr Sharma dan rekan-rekannya telah mengembangkan skala yang disebut Edmonton Obesity Staging System yang mencakup ketiga hal di atas.

Meskipun ditolak, para dokter mengakui bahwa metode BMI masih memiliki tempat dalam pengobatan. Peneliti juga mengatakan, misalnya, ada dua pasien datang dengan tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi dengan BMI 21 dan 31, dia tahu bahwa salah satu memiliki kebutuhan untuk menurunkan berat badan dan yang lainnya membutuhkan pengobatan masalah kardiometabolik secara langsung. [Dailymail]

Baca Juga: Mahasiswa Ini Temukan Cara Lain Manfaatkan Tinder

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI