Peneliti Kembangkan Sensor untuk Memantau Asma

Ririn Indriani, Risna Halidi

Senin, 22 Mei 2017 | 20:30 WIB
Peneliti Kembangkan Sensor untuk Memantau Asma
Ilustrasi serangan asma. (Shutterstock)

Suara.com - Periset telah menciptakan sensor berbasis graphene yang dapat membantu untuk memantau dan mengelola penyakit pernapasan seperti asma. Mereka mengatakan, sensor tersebut bisa dijadikan sebagai alat deteksi dini serangan asma yang tiba-tiba, sehingga dapat mencegah tindakan rawat inap dan bahkan mencegah kematian.

Sensor tersebut membuka jalan bagi pengembangan perangkat yang dapat dikenakan di tubuh pasien, menyerupai pelacak kebugaran seperti Fitbit, yang bisa dikenakan oleh pasien dan kemudian secara tepat menentukan kapan dan berapa dosis obat yang perlu dikonsumsi.

"Visi kami adalah mengembangkan alat yang bisa digunakan seseorang dengan penyakit asma atau penyakit pernapasan lainnya di sekitar leher atau pergelangan tangan mereka dan secara berkala memprediksi timbulnya serangan asma atau masalah lainnya," kata Mehdi Javanmard, Asisten Profesor di Rutgers University-New Brunswick di New Jersey, AS dilansir Zeenews.

Asma adalah kondisi paru-paru kronis yang terasa menyempitkan pada saluran udara di paru-paru dan telah mempengaruhi 300 juta orang di seluruh dunia. Gejalanya meliputi batuk, sesak napas dan sesak dada.

Metode non-invasif saat ini untuk mendiagnosis dan memantau asma terbatas dalam menandai sifat dan tingkat peradangan saluran napas masing-masing pasien. Selain itu, penanganan juga memerlukan peralatan mahal yang terkadang tidak dapat dijangkau dengan mudah oleh pasien.

Peneliti mengakui, ada kebutuhan mendesak untuk memperbaiki metode invasif minimal untuk diagnosis molekuler dan pemantauan asma. Mengukur biomarker dalam kondensat napas yang dihembuskan (tetesan cairan kecil yang habis saat bernapas), dapat berkontribusi untuk memahami asma pada tingkat molekuler dan menghasilkan pengobatan dan pengelolaan penyakit yang lebih baik.

Sensor elektrokimia secara akurat juga dapat mengukur nitrit dalam kondensat napas yang dihembuskan.

"Dengan metode yang cepat dan mudah untuk mengukurnya, dapat membantu orang awam menentukan apakah polutan udara mempengaruhi mereka sehingga mereka dapat mengelola penggunaan obat dan aktivitas fisik dengan lebih baik,"  kata Clifford Weisel, rekan penulis studi dan Profesor di Rutgers University.

Hanya dengan melihat batuk dan gejala luar lainnya, kata Javanmard, akurasi diagnosis seringkali buruk. "Jadi karena itulah ide memonitor biomarker secara terus menerus dapat menghasilkan pergeseran paradigma," imbuhnya.

Langkah selanjutnya para peneliti adalah mengembangkan sistem portabel yang mudah dipakai dan tersedia secara komersial dalam waktu lima tahun ke depan.

Para periset mengatakan bahwa mereka juga menginginkan perluasan jumlah biomarker peradangan yang dapat dideteksi dan diukur oleh perangkat. Penelitian ini sendiri telah dipublikasikan secara online di jurnal Microsystems & Nanoengineering.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Studi: Teratur Konsumsi Aspirin Mampu Tangkal Risiko Kanker

Studi: Teratur Konsumsi Aspirin Mampu Tangkal Risiko Kanker

Health | Kamis, 04 Mei 2017 | 09:16 WIB

Punya Hubungan Baik, Anda Bisa Terhindar dari Risiko Demensia

Punya Hubungan Baik, Anda Bisa Terhindar dari Risiko Demensia

Health | Rabu, 03 Mei 2017 | 11:30 WIB

Jadi Ayah di Usia Ini Tingkatkan Risiko Autisme pada Anak

Jadi Ayah di Usia Ini Tingkatkan Risiko Autisme pada Anak

Health | Rabu, 03 Mei 2017 | 14:13 WIB

Terkini

Lansia Tembus 34 Juta Jiwa! Pelayanan Sosial Perlu Diubah, Jangan Cuma Jadi Objek Bansos

Lansia Tembus 34 Juta Jiwa! Pelayanan Sosial Perlu Diubah, Jangan Cuma Jadi Objek Bansos

News | Rabu, 30 September 2026 | 06:00 WIB

Leo/Daniel Raih Emas Ganda Putra Asian Games 2026

Leo/Daniel Raih Emas Ganda Putra Asian Games 2026

Foto | Rabu, 30 September 2026 | 06:00 WIB

KAI Pastikan Masinis Tak Sendirian Hadapi Proses Hukum Insiden Bekasi

KAI Pastikan Masinis Tak Sendirian Hadapi Proses Hukum Insiden Bekasi

Foto | Rabu, 30 September 2026 | 05:00 WIB

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:53 WIB

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:22 WIB

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:17 WIB

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

×