Jangan Tertipu! Filter Rokok Tingkatkan Risiko Kanker Paru

Chaerunnisa, Dinda Rachmawati

Kamis, 25 Mei 2017 | 11:32 WIB
Jangan Tertipu! Filter Rokok Tingkatkan Risiko Kanker Paru

Suara.com - Peneliti mengungkapkan, filter rokok yang diperkenalkan beberapa dekade lalu untuk mengurangi jumlah tar masuk di tubuh perokok, ternyata bisa mengubah sifat asap dan meningkatkan risiko kanker paru.

Dalam tinjauan penelitian tentang perubahan tingkat kanker paru, dan perubahan jenis kanker paru yang paling umum terjadi, penulis penelitian berpendapat, ventilasi yang merupakan lubang kecil yang digunakan di hampir semua rokok yang dijual saat ini menciptakan risiko kesehatan baru.

"Desain filter rokok yang memiliki ventilasi atau lubang kecil ini bisa membuat rokok jadi lebih berbahaya, karena lubang kecil tersebut bisa mengubah cara pembakaran tembakau. Sebaiknya biarkan perokok menghirup lebih banyak asap, dan menganggap asap lebih aman karena tanpa lubang kecil ini, asap justru lebih halus," ungkap penulis senior Dr. Peter D. Shields dari The Ohio State University Wexner Medical Center di Columbus.

Lebih lanjut, Shields mengungkapkan, ini berlaku untuk semua rokok. Pasalnya, hampir semua rokok di pasaran memiliki lubang kecil dalam filter mereka, bukan hanya yang biasa disebut lights atau ultra-lights.

Dia dan timnya juga meninjau kembali bukti yang menghubungkan lubang kecil dalam filter rokok dengan peningkatan tingkat kanker paru, dalam sebuah laporan online di Journal of National Cancer Institute, pada 22 Mei.

Ventilasi atau lubang kecil dalam filter memang mengurangi jumlah tar dalam asap rokok saat diuji pada mesin rokok. Namun, lubang kecil di bagian rokok membuat pembakaran tembakau lebih lambat, sehingga menghasilkan lebih banyak semburan asap per batangnya. Bahan kimia beracun inilah yang menjadi penyebab kanker karena dihirup oleh perokok.

"Penggunaan lubang kecil dalam filter, hanya bisa menghasilkan tar lebih rendah cuma pada mesin rokok. Ini tidak ada hubungannya dengan eksposur aktual pada manusia. Lubang kecil membiarkan mereka benar-benar menghirup lebih banyak asap dengan lebih banyak agen penyebab kanker," ungkapnya.

Tim Shields menulis, klaim konten tar yang rendah, perokok menjadi memiliki pemahaman yang salah, bahwa rokok dengan tar yang lebih rendah adalah rokok yang lebih sehat.

Lubang kecil pada filter yang digunakan juga menghasilkan ukuran partikel yang lebih kecil, yang memungkinkan lebih banyak asap menjangkau bagian paru yang rentan.

Meski kadar tar dan nikotin yang diukur dengan mesin rokok telah menurun seiring berjalannya waktu, belum ada perubahan asupan nikotin harian yang cukup besar di antara perokok selama 25 tahun terakhir.

"Bukti menunjukkan bahwa lebih banyak rokok modern yang justru lebih berisiko membuat penggunanya terkena kanker paru. Ada alasan selain lubang kecil pada filter rokok, yang juga bisa berkontribusi terhadap peningkatan risikonya," ungkapnya.

Karena itu, Shields menyarankan agar desain rokok sebisa mungkin harus diatur untuk mengatasi semua kemungkinan alasan yang membuat risiko kanker paru lebih besar pada perokok.

Lubang kecil itu, sambung Shields, tidak memiliki manfaat kesehatan, lubang kecil atau ventilasi ini tidak memiliki tujuan kesehatan. Rokok yang memiliki lubang kecil pada bagian filternya, tidak menurunkan tar ke manusia.

Lebih lanjut, Shields memaparkan, jika ini sebenarnya memiliki potensi bahaya, FDA bisa bertindak, biarpun sains itu tidak sempurna. FDA bisa meminta produsen rokok untuk membuat filter tanpa lubang kecil atau ventilasi. Ini mudah dan mereka sudah melakukannya untuk beberapa merek.

Memiliki filter mungkin memang lebih aman. Tapi penelitian ini membahas tentang lubang kecil yang sering digunakan pada filter. Pihaknya, lanjut dia, tidak mengatakan bahwa semua rokok harus menghilangkan filter, mereka hanya menekankan untuk mengubah desain rokok dengan membuang lubang kecil pada filternya.

"FDA sekarang memiliki wewenang untuk meminta penghilangan lubang kecil pada filter, karena lubang kecil atau ventilasi tidak memiliki tujuan kesehatan untuk masyarakat dan malah memberikan janji palsu untuk mengurangi risiko," ujar tim peneliti.

"Tindakan tunggal untuk melarang lubang kecil atau ventilasi pada filter rokok oleh FDA, sudah dibenarkan secara ilmiah, dan ini ada dalam mandatnya untuk memperbaiki kesehatan masyarakat," tulis mereka. (Huffingtonpost)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

YLKI Desak KPI Larang Iklan Rokok di Acara Ramadan

YLKI Desak KPI Larang Iklan Rokok di Acara Ramadan

News | Selasa, 16 Mei 2017 | 09:19 WIB

PP Peringatan Kesehatan Bergambar di Bungkus Rokok Akan Direvisi

PP Peringatan Kesehatan Bergambar di Bungkus Rokok Akan Direvisi

Health | Jum'at, 12 Mei 2017 | 21:09 WIB

Riset: Bumil Merokok Picu Risiko Autisme pada Cucu

Riset: Bumil Merokok Picu Risiko Autisme pada Cucu

Health | Minggu, 30 April 2017 | 18:24 WIB

Studi: Statin Ternyata Tak Berpengaruh pada Pasien Kanker Paru

Studi: Statin Ternyata Tak Berpengaruh pada Pasien Kanker Paru

Health | Rabu, 01 Maret 2017 | 18:56 WIB

Tak Semua Perokok Kena Kanker Paru? Ini Tanggapan Dokter

Tak Semua Perokok Kena Kanker Paru? Ini Tanggapan Dokter

Health | Jum'at, 10 Februari 2017 | 15:15 WIB

Berhenti Merokok Bisa Turunkan Risiko Kanker Paru

Berhenti Merokok Bisa Turunkan Risiko Kanker Paru

Health | Kamis, 17 November 2016 | 08:48 WIB

Perokok Berisiko 20 Kali Lipat Mengidap Kanker Paru

Perokok Berisiko 20 Kali Lipat Mengidap Kanker Paru

Health | Rabu, 16 November 2016 | 19:51 WIB

Asap Rokok Lebih Bahaya Ketimbang Polusi Udara

Asap Rokok Lebih Bahaya Ketimbang Polusi Udara

Health | Jum'at, 20 November 2015 | 07:20 WIB

Merokok Sama Bahayanya dengan Duduk 10 Jam

Merokok Sama Bahayanya dengan Duduk 10 Jam

Health | Rabu, 18 November 2015 | 10:09 WIB

Terkini

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Health | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:03 WIB

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Health | Senin, 06 Juli 2026 | 16:40 WIB

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Health | Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:00 WIB

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:05 WIB

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:46 WIB

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:13 WIB

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:35 WIB

×