Studi Terbaru Beri Harapan Perempuan yang Susah Kendalikan Pipis

Arsito Hidayatullah | Risna Halidi | Suara.com

Senin, 29 Mei 2017 | 19:33 WIB
Studi Terbaru Beri Harapan Perempuan yang Susah Kendalikan Pipis
Ilustrasi kebelet ingin buang air kecil. [Shutterstock]

Suara.com - Para ilmuwan kini telah melakukan terobosan dalam pengobatan inkontinensia. Untuk diketahui, inkontinensia adalah kondisi di mana seseorang tidak dapat mengontrol buang air kecil.

Saat ini, para ilmuwan disebut telah mengidentifikasi gen yang memicu kondisi tersebut. Dikatakan, satu dari empat perempuan menderita 'stres inkontinensia' ketika sedang tertawa, bersin, batuk, berolahraga, atau gerakan lain yang memberi tekanan pada kandung kemih.

Penemuan terbaru ini membawa harapan bahwa masalah yang mempengaruhi jutaan perempuan tersebut dapat disembuhkan dengan mengadaptasi obat-obatan yang ada.

Saat ini tercatat 25% perempuan mengalami inkontinensia yang cukup buruk hingga merusak kualitas hidup mereka. Sejauh ini baru ada solusi berupa terapi, yaitu meliputi latihan dasar panggul dan latihan kandung kemih, dengan saran untuk meminum lebih sedikit cairan dan menurunkan berat badan. Dalam beberapa kasus, tindakan operasi pun dinilai perlu dilakukan.

Kondisi 'pipis susah dikontrol' itu sendiri disebabkan oleh beberapa hal, seperti persalinan alami dan menopause. Namun menurut peneliti pula, lebih dari separuh kasus masalah inkontinensia terjadi karena warisan (keturunan).

Terobosan kini telah dilakukan, ketika gen yang terkait dengan inkontinensia urin sudah dikaitkan dengan dua kondisi lain di mana ada perawatan obat yang bisa diuji. Diharapkan, obat-obatan yang sudah tersedia tersebut bisa segera disesuaikan.

"Dua puluh lima persen perempuan dewasa akan mengalami inkontinensia yang cukup parah hingga mempengaruhi kualitas hidup mereka. (Kami) Menemukan penyebab genetik dan rute pengobatan potensial menjadi prioritas," terang Dr Rufus Cartwright.

Peneliti mengkaji sebanyak 9.000 perempuan dari tiga kelompok di Finlandia dan Inggris. Mereka menemukan bahwa gen yang mempengaruhi inkontinensia berada pada area yang sama dengan yang berhubungan dengan hipertensi pulmonal dan sindrom Raynaud, di mana terjadi kejang arteri dan dapat mengurangi aliran darah.

"Penelitian sebelumnya telah gagal untuk mengkonfirmasi adanya penyebab genetik inkontinensia. Meskipun saya selalu berharap bahwa kita akan menemukan sesuatu yang penting, ada tantangan besar yang dihadapi dalam menemukan cukup banyak perempuan untuk berpartisipasi, dan kemudian mengumpulkan informasi tentang inkontinensia. (Kami) Sudah lebih dari lima tahun bekerja," jelas Cartwright pula.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Umur Panjang Ternyata Juga Dipengaruhi Genetik, Ini Buktinya

Umur Panjang Ternyata Juga Dipengaruhi Genetik, Ini Buktinya

Health | Jum'at, 26 Mei 2017 | 13:54 WIB

Ini 7 Hal Penting Tentang Buang Air Kecil

Ini 7 Hal Penting Tentang Buang Air Kecil

Health | Rabu, 30 November 2016 | 11:40 WIB

Sering Buang Air Kecil? Waspadai Gejala Diabetes

Sering Buang Air Kecil? Waspadai Gejala Diabetes

Health | Kamis, 10 November 2016 | 17:15 WIB

Terkini

Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman

Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman

Health | Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:56 WIB

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:05 WIB

Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?

Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:29 WIB

Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial

Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:22 WIB

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 11:49 WIB

Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak

Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:17 WIB

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:01 WIB

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:30 WIB

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 13:24 WIB

Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 11:17 WIB