alexametrics

Cara Ini Atasi Lonjakan Pola Konsumsi Gula Garam dan Lemak

Chaerunnisa | Dinda Rachmawati
Cara Ini Atasi Lonjakan Pola Konsumsi Gula Garam dan Lemak
Ilustrasi garam dan gula. (Shutterstock)

Anda bisa mengatasi lonjakan pola konsumsi gula garam dan lemak.

Suara.com - Berbagai acara khusus, seperti Hari Raya, resepsi pernikahan, ulang tahun atau bahkan arisan memang selalu identik dengan 'pesta makan'. Berbagai jenis makanan, yang sehat maupun tak sehat tersaji.

Hal ini, kata Prof. Dr. Nuri Andarwulan, Direktur SEAFAST Center, tanpa disadari membuat pola konsumsi mengalami lonjakan dari pola konsumsi biasanya. Hingga menyebabkan asupan makanan dan minuman kita melebihi batas rata-rata kalori harian.

"Kondisi seperti ini disebut Naive Subject. Kenapa namanya naive, karena senyawa atau zat gizi yang tiba-tiba melonjak dalam jumlah tinggi ini sering tidak terekspos, sehingga responnya jadi ekstrim," jelas Prof. Nuri dalam acara Jakarta Food Editor's Club (JFEC) di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (25/7/2017).

Selain berbagai acara khusus, sambungnya, variasi pola diet yang tidak terkontrol juga dapat berujung pada Naive Subject, yang tak jarang didukung dengan gula, garam dan lemak yang berlebihan.

Lebih lanjut, Prof. Nuri menjelaskan, faktor inilah yang akan memicu meningkatnya Penyakit Tidak Menular (PTM), seperti jantung koroner, obesitas, diabetes, stroke hingga osteoporosis.

Untuk itu, dia mengajak masyarakat Indonesia mulai menyesuaikan asupan makanan yang akan mereka konsumsi, dengan kebutuhan tubuh, sehingga tercipta sebuah pola konsumsi harian.

"Orang dewasa membutuhkan rata-rata asupan kalori harian 2000 kkal. Untuk protein anjurannya 15-20 persen dari total kalori. Kalau 2000 kkal, 20 persennya berarti 400 gram protein. Jumlah itu dibagi menjadi tiga kali waktu makan, pagi, siang, malam berarti kurang lebih 100 gram," ungkapnya.

Untuk protein, kata dia, jumlah antara makan pagi, siang dan malam adalah sama, mengingat protein sangat penting untuk membantu proses regenerasi sel-sel yang rusak atau usang. Prof. Nuri juga menyarankan agar jumlah karbohidrat saat sarapan lebih banyak dibandingkan waktu makan siang dan malam.

"Karena jeda makan pagi ke makan siang cukup lama. Jam 9-10 jangan sampai lapar lagi supaya kita tetap bisa produktif. Makan siang sebenarnya porsinya bisa sama dengan sarapan, tapi harus lebih sedikit dengan makan malam," jelasnya.

Sementara untuk sayur dan buah 450 gram perhari adalah jumlah yang ideal, di mana 250 gram sayuran dan 150 gram buah perhari. Ini dikarenakan, kata dia, selain vitamin dan mineral, serat pangan dan antioksidan alami juga penting untuk kebugaran tubuh.