5 Fakta yang Membedakan Anak Indonesia dengan Anak Negara Lain

Vania Rossa | Vessy Dwirika Frizona | Suara.com

Jum'at, 01 Juni 2018 | 14:07 WIB
5 Fakta yang Membedakan Anak Indonesia dengan Anak Negara Lain

Suara.com - Benesse Educational Research and Development (BERD) Institute mengadakan survei kepada ibu-ibu yang memiliki anak usia 4-6 tahun dari Finlandia, Cina, Jepang, dan Indonesia pada tahun 2017. Menarik, karena hasil survei ini mengungkap sejumlah fakta yang seakan menjawab kenapa ada perbedaan antara karakter anak Indonesia dengan anak-anak dari negara lain. Dibandingkan ibu-ibu yang berasal dari Jepang, Cina, dan Finlandia, ibu-ibu di Indonesia ternyata memiliki keinginan yang lebih kuat agar anaknya menjadi sosok yang mewarisi keturunan keluarga, sosok yang akan mengurus orangtua di masa yang akan datang, sosok yang bisa mengabulkan cita-cita orangtua, dan sosok yang akan mengabdi kepada masyarakat di masa depan.

Berikut lima fakta menarik dari hasil survei tersebut.

1. Anak-anak Indonesia bangun tidur lebih awal
Alasannya, Indonesia memiliki banyak kegiatan di pagi hari, dan terutama bagi anak-anak pemeluk agama Islam, ada ritual salat Subuh yang sudah diajarkan sejak dini oleh orangtua kepada anaknya. Pada hari biasa, anak Indonesia yang bangun tidur sebelum pukul 05.30 mencapai 11,1 persen dan yang bangun pada pukul 06.00 mencapai 31,9 persen. Sementara, anak-anak di tiga negara lainnya (Jepang, China, dan Finlandia) yang bangun tidur pada pukul 05.30 kurang dari 3 persen, dan yang bangun pada pukul 06.00 kurang dari 13 persen. Anak-anak di Jepang, Cina, dan Finlandia ternyata lebih banyak bangun tidur pada pukul 07.00.


2. Menghabiskan waktu lebih sedikit di playgroup atau PAUD
Hasil survei mengungkapkan bahwa 89,8 persen anak Indonesia menghabiskan waktu kurang dari 4 jam di PAUD. Itu artinya, lebih singkat dibandingkan dengan anak-anak dari negara lain. Anak-anak di Indonesia ternyata tidak ada yang pernah menghabiskan waktu di PAUD lebih dari 8 jam.

Sebaliknya, anak-anak di negara lain justru banyak menghabiskan waktu di PAUD hingga lebih dari 8 jam. Anak-anak di China yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam di PAUD mencapai 50 persen. Selanjutnya, disusul oleh anak-anak di Finlandia 44 persen, dan Jepang 10 persen. Lamanya anak-anak di Jepang, China, dan Finlandia menghabiskan waktu di PAUD karena banyak orangtua di sana adalah wanita pekerja.

3. Perspektif ibu terkait pola asuh anak
Bagi Ibu di Indonesia, ada tiga hal yang memerlukan usaha paling besar dalam mengasuh anak. Pertama, menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, seperti menyikat gigi, mandi, dan sebagainya (66,9 %). Selanjutnya, disusul dengan usaha menjaga kesehatan tubuh (64,8 %), dan main bersama orangtuanya (56,7%).

Dalam studi longitudinal, perkembangan pada usia prasekolah (3-6 tahun) yang dilakukan oleh BERD, anak- anak yang menguasai kebiasaan hidup pada usia 3-4 tahun akan memiliki kemampuan sosial emosional yang lebih baik pada usia 4-5 tahun.

4. Harapan orangtua terhadap masa depan anak
Para ibu Indonesia mengharapkan anaknya menjadi orang yang menyayangi keluarga (75,8 %), menjadi orang yang memiliki sikap kepemimpinan (53,1 %), dan menjadi orang yang bisa memanfaatkan kemampuan tinggi dalam pekerjaan (35 %).

Serupa dengan ibu di Indonesia, ibu di China (77,9 %) dan Finlandia (81,7 %) juga menginginkan anak mereka menjadi orang yang menyayangi keluarga. Hanya para ibu di Jepang berharap anak mereka menjadi orang yang memiliki pendirian atau pendapat sendiri (72,3 %).

5. Arti anak di mata orangtua
Para ibu di Indonesia menilai bahwa anak adalah sosok yang mewarisi keturunan keluarga untuk masa depan (64,3 %), sosok yang akan mengurus orangtua di masa yang akan datang (57,9 %), dan sosok yang bisa mengabulkan cita-cita orangtua (57,0 %). Tiga penilaian tersebut merupakan hasil survei yang unik dari Indonesia, karena 30 poin lebih tinggi dibandingkan negara lain.

Dr. Sofia Hartati, M.Si, ketua Asosiasi Pendidikan Guru PAUD, memaparkan bahwa dari suku dan agama apapun yang dianut sebagain besar masyarakat Indonesia, anak merupakan harapan orangtua dan penerus keluarga. Secara psikologis, memiliki anak berarti memberi rasa aman, karena saat mereka tua akan ada yang menjaga, merawat, dan memberi perhatian. Sementara itu, para ibu di Jepang (66,6 %) dan Finlandia (98,9 %) menilai bahwa anak adalah sosok yang memakmurkan kehidupan sehari-hari. Adapun ibu di China menilai bahwa anak adalah sosok yang mempunyai karakter atau kepribadian yang berbeda dengan orangtua (81,2 %).

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Minat Baca dan Skor Kompetensi Anak Indonesia Masih Rendah

Minat Baca dan Skor Kompetensi Anak Indonesia Masih Rendah

Health | Rabu, 09 Mei 2018 | 13:30 WIB

Psikolog: Anak Indonesia Jarang Main Keluar

Psikolog: Anak Indonesia Jarang Main Keluar

Lifestyle | Rabu, 07 Februari 2018 | 18:50 WIB

Satu dari Empat Anak Indonesia Kurang Minum

Satu dari Empat Anak Indonesia Kurang Minum

Health | Selasa, 30 Januari 2018 | 05:38 WIB

Terkini

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

Health | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:55 WIB