Sindrom Penis Mengecil, Fakta atau Mitos?

Liberty Jemadu

Sabtu, 21 Juli 2018 | 09:44 WIB
Sindrom Penis Mengecil, Fakta atau Mitos?
Ilustrasi pisang. [Shutterstock]

Suara.com - Pada abad ke-19, ketika Belanda menguasai wilayah yang sekarang menjadi negara Indonesia, mereka menemui beberapa fenomena aneh seperti amuk, latah, dan koro (sindrom penis mengecil).

Mereka penasaran dan heran, kemudian mengajukan penjelasan bahwa fenomena-fenomena tersebut merupakan sindrom psikiatris yang spesifik untuk budaya lokal tertentu. Amuk dipahami sebagai luapan amarah yang tak tertahankan sementara latah sebagai refleks terkejut yang berlebihan. Budaya-budaya Indonesia memodifikasi dan menafsirkan fenomena ini dengan cara lokal yang spesifik.

Dari ketiga sindrom ini, koro paling tidak dikenal, karena kebanyakan kejadiannya hanya terjadi di Sulawesi Selatan. Dalam budaya medis orang-orang Bugis dan Makassar kata koroq memiliki arti penis yang mengecil, atau mengerut ke dalam, tapi orang Belanda tidak percaya itu sungguh-sungguh terjadi.

Sementara orang Belanda tahu bahwa penis bisa mengerut jika terpapar suhu dingin, mereka tidak menerima bahwa penis bisa mengerut karena penyebab lain. Mereka mengadopsi kata koroq, dengan membuang akhiran glotal di akhir kata tersebut, menjadi koro. Mereka mendefinisikannya sebagai kondisi delusional di mana pasien percaya bahwa penis mereka mengecil padahal tidak. Ini menjadi pandangan dominan di literatur internasional dan terdapat di teks-teks psikiatri utama di seluruh dunia.

Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD), yang disusun oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), didasarkan pada biologi manusia yang universal dan bukan berdasarkan budaya. Maka, sindrom aneh yang terjadi di satu tempat saja menurut budaya terdaftar khusus di lampiran di luar klasifikasi utama.

Delusi atau efek kecemasan?

Pada 1985, psikiater dari Amerika Ronald Simons menjelaskan bahwa pada koro, mengerutnya penis merupakan refleks untuk melindungi dalam situasi lari-atau-kelahi (fight-or-flight).

Mengecilnya penis umum terjadi dalam keadaan cemas. Ini dapat menjadi serangan panik besar dan menyebabkan penis mengerut ke dalam secara ekstrem, karena semakin cemas mereka penis akan semakin mengerut. Mengecilnya penis menyebabkan kecemasan, dan kecemasan tersebut membuat penis semakin mengerut, dan seterusnya.

Mengecilnya penis sebagai refleks protektif melindungi penis dari luka ditemukan dalam situasi lari-atau-kelahi pada binatang. Dalam model yang Simons ajukan refleks ini masih terjadi secara parsial pada manusia.

Teori dari Simons memberikan penjelasan universal untuk koro secara biologis bukannya penjelasan budaya yang spesifik. Namun, argumen ini belum diterima secara luas. Definisi koro sebagai sejenis gangguan delusional masih diterima secara luas dalam literatur internasional.

Di Indonesia, koro ditangani oleh tabib tradisional, yaitu dukun, yang kebanyakan merupakan warga desa dengan tingkat pendidikan sekolah umum yang rendah.

Para dukun ini jelas tidak membaca literatur internasional dan dengan cara sederhana mengikuti metode penyembuhan yang diturunkan melalui tradisi oral. Bukti yang ada menunjukkan bahwa praktik para tabib tradisional ini lebih cocok masuk ke dalam model serangan panik yang diajukan Simons ketimbang konsep bahwa koro adalah gangguan delusional.

Ketika seorang pasien datang dalam keadaan panik dan mengatakan bahwa penisnya mengecil, sang dukun menerima keluhan ini apa adanya. Dia akan memberikan perawatannya, dan menghilangkan rasa panik yang memungkinkan penis yang mengerut kembali ke kondisi normal.

Jika koro dipahami sebagai serangan panik, pemulihan yang terjadi tidak mengherankan. Serangan panik umumnya meningkat hingga suatu titik puncak dan kemudian dengan cepat menurun, sehingga sang dukun sebenarnya hanya membantu memberikan perawatan yang alamiah.

Di mana lagi di Indonesia?

Sindrom penis mengerut akibat rasa panik ini terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Yang pertama tercatat dari Sulawesi Selatan pada 1859. Hanya dalam beberapa dekade terakhir informasi yang signifikan muncul dari wilayah lain.

Di Flores barat dan tengah, sindrom ini dikenal dengan sebutan ru’u pota, “sihir pengecil”. Koran lokal Flores Post melaporkan epidemi dengan ratusan kasus tersebut di Ende dari 5-7 Oktober 1999.

Di Sumba Timur, sindrom ini dikenal sebagai hei lulu, “semuanya naik ke atas”. Di distrik Belu di Timor sindrom ini dikenal sebagai lulik oan subaran, “si kecil yang suci sedang bersembunyi”. Laporan mengenai kondisi ini muncul di surat kabar lokal di Indonesia dan laporan ahli antropologi lokal, tapi belum pernah di jurnal medis internasional.

Cerita dukun penyembuh koro

Karena ketidakjelasan seputar teori Simons, ketika saya mendengar pada 2002 tentang seorang dukun dari Sumba di pinggiran Waingapu yang terkenal dapat menyembuhkan koro, saya memutuskan untuk mengunjunginya.

Umbu Hina Panjarra seorang peternak babi dan penggemar berat Megawati Soekarnoputri, mantan presiden Indonesia, sangat bersemangat ketika bercerita. Dia mengatakan bahwa tidak hanya warga desa, tapi beberapa pejabat penting pemerintah juga diantar secara tergesa-gesa ke rumah sederhana beralas tanah milik Hina, seringkali dengan sehelai tali yang diikat pada penis mereka untuk mencegahnya menghilang.

Hina memberi perawatan dengan pijatan yang keras, memijat otot betis dan paha ke arah atas, dan memijat perut ke arah bawah, seakan-akan mendorong semacam energi tubuh menuju penis yang mengecil. Sangat penting untuk memijat dengan keras, katanya, dan memberi tekanan pijat yang menyakitkan.

Gaya dukun ini seperti pemain pertunjukan yang antusias dan dia suka meminta pasiennya telanjang bulat agar keadaan penis yang membaik dapat terlihat, dan drama membuka tali yang mengikat penis menjadi tanda bahwa baik tabib dan pasien sudah yakin bahwa krisis telah berlalu.

Ini materi yang menakjubkan. Namun, cerita ini merupakan anekdot dan tidak membuktikan tesis milik Simons.

Hina tidak memiliki catatan pengukuran atau foto atau dokumentasi apapun. Gaya berbahasa Hina merupakan gaya tabib karismatik dan bukan gaya bahasa pengamat yang objektif, berhati-hati dan kritis terhadap dirinya sendiri.

Namun, ceritanya menjadi petunjuk bahwa memang ada refleks penis mengerut yang patut diteliti secara sungguh-sungguh.

Saya dengan mudah menemukan Hina Panjarra di Sumba karena sebelumnya saya pernah bekerja di sana sebagai Pejabat Kepala Dinas Kesehatan di Sumba Barat pada 1968-69, tapi saya hanya seorang pengunjung pada tahun 2002 dan tidak pada posisi untuk mengumpulkan bukti-bukti hasil pengamatan terhadap pasien Hina. Namun, saya menjadi yakin bahwa mengumpulkan lebih banyak informasi mengenai topik ini cukup bernilai.

Bukti baru

Baru-baru ini bukti baru muncul dari beberapa dokter di Kairo, Mesir, yang memberikan suntikan botoks pada pria yang malu karena penis yang mengecil. Mereka telah mempublikasikan pengukuran tingkat mengecilnya penis dan tingkat perbaikan hasil dari suntikan botoks.

Mengikuti beberapa petunjuk, saya mengunjungi Ende dan kemudian Makassar, dan menemukan dukun di kedua tempat, yang mengobati sindrom ru’u pota dan koroq.

Meskipun kepercayaan masing-masing budaya berbeda dari tempat ke tempat, begitu juga dengan gaya dan metode penyembuhan para dukun, ketiga tabib yang saya ajak bicara menekankan dua hal: bahwa mengecilnya penis itu betul-betul terjadi, dan selama pasien dibawa dengan selamat ke rumah sang dukun, mereka semua bisa disembuhkan dan penisnya kembali ke kondisi normal.

Meskipun koro ditemukan di Indonesia, publikasi internasional terbaru mengenai koro datang dari India, Afrika dan banyak negara lain, tapi tidak satu pun dari Indonesia.

Mungkin sudah saatnya bagi ahli antropologi medis Indonesia dan peneliti kesehatan untuk membangkitkan kembali penelitian dengan subjek koro, mengambil manfaat dari keberlanjutan praktik dukun di bidang ini.

Artikel ini sudah diterbitkan sebelumnya di The Conversation.

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Masa Lalu Biksu Mesum di Thailand Dibongkar Polisi: Pernah Menikah dan Jadi Dukun

Masa Lalu Biksu Mesum di Thailand Dibongkar Polisi: Pernah Menikah dan Jadi Dukun

Entertainment | Senin, 14 September 2026 | 11:54 WIB

Ulasan Cafe Minamdang: Penyamaran Dukun Palsu Bongkar Aksi Kejahatan

Ulasan Cafe Minamdang: Penyamaran Dukun Palsu Bongkar Aksi Kejahatan

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 19:30 WIB

Dukun yang Kutuk Harry Kane Kini Ramal Argentina Bakal Ditekuk Tanjung Verde

Dukun yang Kutuk Harry Kane Kini Ramal Argentina Bakal Ditekuk Tanjung Verde

Bola | Selasa, 30 Juni 2026 | 02:19 WIB

Dukun Magang: Mengapa Horor Komedi Jadi Formula Paling 'Nagih' di Bioskop Indonesia?

Dukun Magang: Mengapa Horor Komedi Jadi Formula Paling 'Nagih' di Bioskop Indonesia?

Your Say | Kamis, 25 Juni 2026 | 10:55 WIB

Praktik Sihir di Piala Dunia: Dulu Cristiano Ronaldo Kini Harry Kane Jadi Target

Praktik Sihir di Piala Dunia: Dulu Cristiano Ronaldo Kini Harry Kane Jadi Target

Bola | Selasa, 23 Juni 2026 | 01:22 WIB

NGORBIT: Dari Skripsi ke Dunia Gaib, Perjalanan Raka di Film 'Dukun Magang'

NGORBIT: Dari Skripsi ke Dunia Gaib, Perjalanan Raka di Film 'Dukun Magang'

Video | Senin, 22 Juni 2026 | 22:05 WIB

Review Dukun Magang: Komedi Absurd yang Sukses Bikin Merinding Sekaligus Ngakak!

Review Dukun Magang: Komedi Absurd yang Sukses Bikin Merinding Sekaligus Ngakak!

Your Say | Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50 WIB

Misteri Kuntilanak Hitam di Film Horor Komedi 'Dukun Magang', Bikin Takut Tapi Ngakak

Misteri Kuntilanak Hitam di Film Horor Komedi 'Dukun Magang', Bikin Takut Tapi Ngakak

Video | Senin, 15 Juni 2026 | 11:46 WIB

Film Dukun Magang: Ketika Para Komika Beraksi Lawan Hal Mistis

Film Dukun Magang: Ketika Para Komika Beraksi Lawan Hal Mistis

Video | Minggu, 14 Juni 2026 | 19:05 WIB

Siap-Siap Merinding Sekaligus Ngakak, Film Dukun Magang Tampilkan Kuntilanak Hitam

Siap-Siap Merinding Sekaligus Ngakak, Film Dukun Magang Tampilkan Kuntilanak Hitam

Entertainment | Sabtu, 13 Juni 2026 | 21:28 WIB

Terkini

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

News | Senin, 14 September 2026 | 22:08 WIB

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

Bogor | Senin, 14 September 2026 | 22:05 WIB

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

News | Senin, 14 September 2026 | 22:00 WIB

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 21:53 WIB

Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar

Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 21:47 WIB

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

News | Senin, 14 September 2026 | 21:38 WIB

Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari

Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari

Riau | Senin, 14 September 2026 | 21:37 WIB

Operasi SAR 8 Korban Hilang di Gunung Anak Krakatau Diperpanjang hingga 17 September

Operasi SAR 8 Korban Hilang di Gunung Anak Krakatau Diperpanjang hingga 17 September

Banten | Senin, 14 September 2026 | 21:37 WIB

Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker

Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker

Health | Senin, 14 September 2026 | 21:35 WIB

Temuan Jasad Pria di Pulau Enggano, Polisi Uji Match DNA dengan Keluarga Jurnalis Hilang

Temuan Jasad Pria di Pulau Enggano, Polisi Uji Match DNA dengan Keluarga Jurnalis Hilang

Banten | Senin, 14 September 2026 | 21:30 WIB

×